Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Tuesday, 27 March 2012

UN BIANG GALAU


Siswa sering  "galau"   menjelang UN

Pagi itu sekolah saya mengundang wali murid kelas 9. Mereka diundang terkait hasil Latihan Ujian Nasional (LATNAS)  yang seminggu sebelumnya dilaksanakan. Tampak wajah para wali murid terlihat tegang. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, sumbangan apa lagi ya yang akan diminta sekolah. Wajar kalau di hati mereka muncul pertanyaan semacam itu. Bukankah setiap ada undangan dari sekolah biasanya ujung-ujungnya membicarakan sumbangan ?. He!!! tunggu dulu, belum tentu lho!!.

Untung teman saya yang menjadi pembawa acara membaca situasi di atas. Segera saja sebelum acara dimulai yang bersangkutan  mencairkan suasana dengan mengajak para hadirin tersenyum. Dan cling!!! , sebagian besar hadirin tersenyum. Dengan gaya kocaknya,  teman saya mengajak hadirin  ngobrol ngalor ngidul. Mungkin lebih tepat mendengarkan teman saya bermonolog tentang suka duka ngopeni  putra-putri hadirin menjelang ujian nasional. Suasanapun mirip acara Stand Up Comedy, yang sedang populer saat ini. Dengan logat khas mBanyunasan yang familiar dengan kata Inyong alias ngapak-ngapak-nya diberitahukan kepada wali murid,  mereka  diundang tidak untuk dimintai sumbangan tapi akan diberikan laporan hasil LATNAS. Dan hadirinpun menabung rasa lega.

Tampaknya kelegaan hadirin tidak berlangsung lama. Ketika masuk acara laporan dari urusan kurikulumm terkait hasil LATNAS yang telah dilaksanakan wajah hadirin kembali tegang. Senyum yang tadi sempat mengembang redup bak sinar mentari tertutup mendung hitam. Galau, mungkin istilah anak sekarang untuk menggambarkan suasana hati orang tua siswa. Apa sebab?, orang tua galau saat mendengar bahwa hasil LATNAS menunjukkan bahwa hanya 12%  dari 205 siswa yang memenuhi kriteria kelulusan.Suasana galau yang menyelimuti hati orang tua siswa berakibat pada acara berikutnya. Dari acara paparan kepala sekolah tentang pelaksanaan UN, tanggpana komite , sampai dengan acara tanya jawab kurang menadapat respon hadirin. Ya mereka benar-benar galau.

Pada saat penyerahan hasil LATNAS terjadi saling curhat antara wali kelas dan wali murid. Wali kelas melaporkan anak-anak yang sulit untuk dimotivasi agar lebih bersemangat belajar.Masalah siswa yang lebih senang bermain-main di kelas bahkan yang sering mbolos saat tambahan pelajaran. Sementara wali murid curhat betapa sulitnya menyuruh anak belajar di rumah , anak lebih suka nonton TV, main HP, main game online, sampai anak putri yang rajin pacaran. Dari saling curhat tersebut muncul kesepakatan untuk saling bekerja sama dalam membimbing siswa, agar pada Ujian yang sebenarnya siswa dapat lulus. Tentu saja tidak hanya 12% tetapi 100%. Amin.

Tidak hanya siswa yang tampak galau. Para gurupun juga terselimuti kegalauan. Bagaimana tidak?, jika hasil UN nanti berakibat pada rendahnya tingkat kelulusan siswa , para gurulah yang akan menjadi sorotan masyarakat. Bagi masyarakat, yang mereka tahu bahwa saat ini dengan adanya tunjangan sertifikasi, gaji guru sudah cukup tinggi.Tentu saja dengan gaji tinggi seharusnya kualitas pembelajaran juga meningkat yang ditandai dengan peningkatan tingkat kelulusan siswa dalam UN. Masyarakat tidak mau tahu bahwa banyak faktor dalam hal kelulusan siswa. Input siswa, sarana prasarana, motivasi belajar, dukungan orang tua dan lingkungan adalah faktor yang tidak kalah penting. Yang mereka tahu sekolah membuat anak bodoh menjadi pintar. Titik.

Ya, UN yang katanya diselenggarakan sebagai upaya pemetaan pendidikan di seluruh nusantara berubah menjadi penentuan nasib peserta didik. UN sering dikritik sebagai bentuk kegiatan yang mengabaikan tujuan proses pendidikan sebagai pemerdekaan serta mengenyampingkan fungsi dan tanggung jawab guru profesional dalam tugasnya membantu peserta didik dalam proses pemerdekaannya. Ada perasaan tidak adil bagi sekolah dengan keterbatasan sarana prasaran, input siswa rendah dan lingkungan yang kurang mendukung dituntut diperlakukan sama dengan sekolah dengan kondisi ideal. Meskipun demikian hal tersebut hendaknya tidak menjadi dalih untuk tidak berusaha semaksimal mungkin meraih prestasi dalam keterbatasan yang ada.

2 comments:

  1. Kegalauan insya Alloh dapat sedikit demi sedikit berkurang manakala kita slalu mencoba untuk selalu dekat dengan yang di atas (Alloh SWT). Percayalah Pak, bisa itu karena biasa. Mantap itu karena keyakinan yang kuat. Dan selalu rendah hati adalah pesan leluhur kita. Mari bersama membangun negeri ini dari pinggiran...

    ReplyDelete

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.