Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Friday, 29 April 2011

MERAIH KEBAHAGIAAN DENGAN MENGAJAR

Kebahagiaan  timbul  saat larut dalam suasana pembelajaran
Jika ditanya apa tujuan hidup kita hampir dipastikan banyak mengatakan untuk mencari kebahagaiaan.Meskipun definisi kebahagiaan itu sendiri masih beragam antar satu orang dengan yang lain.Ada yang mengatakan bahagia jika mempunyai uang melimpah, atau mempunyai kekuasaan.Namun terbukti materi dan keuasaan bukan jaminan seorang dapat mencapai kebahagiaan.Eksistensi kebahagiaan sering dipertanyakan. Jangan-jangan  kebahagiaan itu sebuah kondisi ideal  yang sebenarnya tidak mungkin dicapai atau sesatu yang hanya dapat didekati. Meskipun demikian orang mengatakan bahagaia ketika ia dalam kondisi lebih senang, riang, dan puas terhadap sesuatu yang diraihnya.Momen-momen seperti itulah yang tampaknya selalu diusahakan untuk dapat diraih oleh setiap orang.

Berikutnya apakah mengajar dan kebahagiaan sebagai dua hal yang  sejalan. Mengajar sebagai sebuah pekerjaan sering diartikan sebagai beban atau kewajiaban yang harus dialakuakan sebagai konskuensi logis profesi. Namun sesungguhnya kebahagiaan dan mengajar adalah dua sisi yang sangat berkaitan .Bahkan mengajar merupakan salah satu jalan mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Banyak para filosof yang berpendapat bahawa jalan menuju kebahagiaan tidaklah tunggal. Bisa jadi hal yang membahagiakan menurut kita belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Salah satu alasan kita memilih profesi sebagai  seorang guru  adalah untuk memperoleh pendapatn secara materi. Tentu saja alasan yang bersifat materialistik bukanlah hal yang salah. Sebagai seorang manusia, guru dalam keseharian perlu pemenuhan kebutuhan yang bersiafat materialistik. Bukankah setiap manusia pada dasarnya materialis dan tentu kita tak akan menjadi manusia jika tidak materialis. Namun untuk mendapatkan kebahagiaan dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik materi bukanlah jaminan. Meskipun pada tahap-tahap tertentu materi membuat manusia merasa bahagia.Akan tetapi  banyak riset mutakhir menunjukkan perhatian berlebih pada kepemilikkan materi adalah tidak sehat. Orang yang mamandang tinggi nilai-nilai materialistis cenderung lebih tertekan, memiliki lebih sedikit teman dan hubungan yang kurang stabil. Mereka punya rasa ingin tahu yang rendah, kurang tertarik pada kehidupan, dan lebih mudah jenuh.
Di era sertifikasi guru tentunya sebagian besar guru menikmati peningkatan pendapatan materi secara signifikan. Dari penelitian yang telah dilakukan tampak peningkatan kesejahteraan secara materi tidak pula meningkatkan kinerja guru secara signfikan. Bahkan ditengarai dengan meningkatnya pendapatan tersebut  tidak sedikit memunculkan konflik rumah tangga guru.Jika dengan pendapatan sebelumnya sang guru puas dengan kondisi pasaangan baik secara materi maupun fisik maka setelah memperoleh tunjangan profesi, muncul ketidakpuasaan yang memunculkan konflik rumah tangga. Tampaknya  peningkatan materi berpotensi merusak kebahgiaan jika kita tidak mampu mengendalikannya.
Lalu bagaimana sikap kita terhadap profesi yang kita jalankan sebagai seorang pendidik agar  kita merasa bahagia. Secara ekstrim indikasi seseorang diakatakan bahagia ketika ia tidak lagi menginginkan apapun secara materi. Selama kita masih merasa berkekurangan, kita tidak bisa mengaku bahagia. Namun demikian untuk mencapai level kebahagiaan sempurna yang membuat kita terbebas dari rasa keinginan adalah sesuatu yang sangat sulit. Hanya sedikit orang yang mampu mencapai level tersebut.Sebagai seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya tidak berpikir selalu berpikir seberapa materi yang kita peroleh jika mengajar dengan baik.
Sebagai seorang pendidik pada dasarnya adalah menghantarkan peserta didik agar menggapai kebahagiaan dengan ilmu dan nilai-nilai yang kita tanamkan. Ketika kita berusaha menjalankan tugas-tugas sebagai seorang pendidik dengan sebaik-baiknya sehingga mampu menghantarkan murid-murid kita menjadi manusia-manusia yang bahagia disitulah kebahagiaan kita muncul. Tidak itu saja ketika mampu mengorkestrasi kelas yang kita ajar menajdi harmoni kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan  maka timbul sebuah kebahagiaan yang tentunya sulit kita ungkapkan secara verbal.  
Menjadikan kegiatan mengajar sebagai bentuk kegiatan yang tak lepas dari aspek religiusitas akan menjadikan kita lebih bahagia. Konsep bekerja adalah ibadah menuntun kita untuk lebih mengedepankan imbalan yang bersifat akhirat dibanding duniawi. Dengan mengedepankan ketulusan dan keikhlasan saat membimbing siswa kita tentunya akan membuat hati kita lebih ringan dan sabar dalam mengahadapi segala hambatan yang kita temui dalam kegiatan belajar mengajar. Ketidak ikhlasan justru sering menimbulkan kekecewaan. Akumulasi kekecewaan yang dirasakan justru menimbulka perasaan tidak bahagia. 
Indikasi seorang guru tidak bahagia dalam menjalankan tugasnya adalah terlalu seringnya mengeluh.Keluhan-keluhan muncul sebagai bentuk kekecewaan- kecewaan terhadap pekerjaan yang dijalaninya.Bagi guru dengan karakter tersebut berpotensi menularkan perilaku buruknya kepada orang-orang disekitarnya. Bahkan dalam menjalankan tugas-tugasnya cenderung menyakiti peserta didik baik secara fisik maupun psikis.
Tampaknya sumber dari kebahagian sebenarnya tidak terlalu jauh dari kita. Melalui profesi yang kita geluti kebahagiaan dapat kita peroleh. Dengan  mengedepankan keikhlasan dan ketulusan dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik mendekatkan kita kepada kebahagiaan. Menyadari tugas seorang pedidik adalah memberi bekal kepada peserta didiknya menjadi manusia yang bahagia akan membuat kita juga lebih bahagia.Akhirnya buat apa kita sering mengeluh. Mengeluh akan membuat kita selalu tidak nyaman dalam menjalankan tugas.
Semakin  bahagia dalam menjalankan tugasnya maka semakin meningkat pula kualitas pembelajaran yang dilakukakn. Guru yang bahagia  akan berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran dengan berbagai cara. Dan seorang guru yang bahagia akan menularkan kebhagiaan terhadap peserta didik dan rekan kerjanya. Mari, sebagai pendidik kita berusaha menularkan kebahgaiaan kepad peserta didik kita dengan berusaha menjadi guru yang hagia dalam menjalnkan tugas-tugasnya. Hidup guru Indonesia, semoga bahagia. Amin. 





No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.