Blog Sederhana ini dibuat sebagai media Curah gagasan, ide, Refleksi, Catatan pengalaman seorang guru, yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pengunjung blog ini.
Masukkan dari pengunjung sangat ditunggu.
Pagi itu di ruang guru nampak kesibukan para wali kelas memasukkan nilai raport. Maklum besok raport akan dibagikan. Tampak beberapa wali kelas begitu gelisah, karena ada satu nilai pelajaran dari seorang guru bernama Pak Dul yang belum dimasukkan. Seperti biasa, Pak Dul, guru yang satu ini paling senang mengakhirkan menyetor nilai kepada wali kelas. Mungkin ia terinspirasi dengan mengakhirkan waktu sahur saat puasa, agar lebih afdol. Ya, Pak Dul saat itu sedang menjadi orang yang paling ditunggu oleh wali kelas yang membutuhkan setoran nilainya.
Pak Dul adalah guru yang istimewa.Rekan-rekannya sering menyebut ia sebagai bisnisman yang nyambi guru. Bisnisnya bermacam-macam dari bisnis jual mobil sampai dengan jual beli kambing. Karena kesibukan bisnisnya tersebut keberadaan Pak Dul di sekolah bak kilat di waktu hujan , sesekali terlihat sesekali hilang. Pak Dul akan menghilang begitu ia selesai mengajar. sekedar menggugurkan kewajiban. Maka tidak heran jika pada saat pengolahan nilai raport ia menjadi “the most wanted “, orang yang paling dicari oleh wali kelas yang menunggu setoran nilai darinya.
Jarum jam pendek sudah menunjuk pada angka sepuluh. Batang hidung pak Dul belum kelihatan. Para wali kelas mulai gelisah. Tampak beberapa dari mereka menggerutu mengeluarkan kata-kata umpatan yang ditujukan ke Pak Dul, sehingga ruang guru agak sedikit gaduh. Namun suasana tersebut tidak berlangsung lama karena Pak Dul segera muncul. Dengan masih mengepulkan sisa asap rokok yang barusan dimatikan, Pak Dul mengucapkan salam. Para guru membalas salam dengan suara lirih menahan kedongkolan,apalagi melihat wajah Pak Dul tampak tenang tanpa merasa berdosa.
Belum sempat Pak Dul menempelkan pantatnya di kursi, rekan-rekan sudah ribut menagih nilai darinya. Nampaknya Pak Dul sudah berpengalaman menghadapi situasi sepei ini. Bukan daftar nilai yang ia keluarkan terlebih dahulu tetapi sebuah bungkusan plastik berisi kue serabi yang masih hangat, yang dibeli saat dalam perjalanan, ia serahkan kepada seorang guru wanita untuk dibagikan. Melihat tumpukan kue serabi yang masih hangat tersebut tanpa menunggu dibagi, para guru segera menyerbu serabi tersebut tanpa sisa . Pak Dul pun tersenyum, ia bisa duduk manis menyandarkan punggung di kursi dan meluruskan kaki sejenak. Sementara rekan-rekan guru larut dalam keheningan menikmati manis gurihnya kue serabi .Wali kelas yang sebelumnya ngotot minta setoran nilai, nampak teralihkan perhatiannya dengan kegiatan mulut ,mengunyah kue serabi.
Kurang dari lima belas menit Pak Dul menyelesaikan tugasnya menuliskan nilai di lembar daftar nilai yang harus disetorkan ke wali kelas. Wali kelas yang tadinya agak dongkol, menerima daftar nilai dari Pak Dul disertai ucapan terima kasih untuk kue serabinya. Biasanya pak Dul menyetor nilai dengan cara mendiktekan nilai kepada wali kelas secara lesan. Dengan membawa buku daftar nilai yang sebenarnya masih kosong, wali kelas diminta menyebut nama siswa dan Pak Dul mendiktekan nilainya. Ya, kali ini ada kemajuan dari Pak Dul.
Setelah selesai menyelesaikan hajatnya Pak Dul nampak akan bergegas meninggalkan ruang guru. Namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba Bu Dar menahanya. “ Maaf Pak, benar ini siswa yang bernama Marhum, dapat nilai delapan ? “, tanya Bu Dar dengan wajah keheran-heranan. “ Benar Bu, Marhum pada saat pelajaran saya ,anaknya aktif,sering maju ke papan tulis, bahkan nilai ulangan hariannya selalu bagus “, jawab Pak Dul.” Tapi Pak, Marhum ini siswa yang sudah meninggal awal semester lalu karena kecelakaan “, Bu Dar mencoba memperjelas alasannya bertanya. Tampak wajah Pak Dul sedikit merah menahan malu, karena nilai yang diberikan sebenarnya nilai karangan . “ Lalu siswa yang aktif tersebut siapa ya ?”, tanya Pak Dul entah pada siapa, masih mencoba ‘ngeles’ . “ Mungkin penampakannya Pak !” ,salah seorang guru melontarkan celetukannya dan pecahlah tawa para guru. Pak Dul pun tersenyum kecut sambil mebuka-buka buku daftar nilainya yang sebenarnya masih kosong.
Belum juga reda tawa para guru yang ditimpali dengan berbagai celetukan, tiba-tiba HP pak Dul berbunyi. Tampak terjadi percakapan Pak Dul dengan rekan bisnisnya. “ Maaf saya ditunggu rekan bisnis saya “, ucap pak Dul kepada rekan-rekannya.Tampaknya ia ingin segera bergegas pergi. Sebelum pergi seperti biasa ia berpesan kepada wali kelas jika nilai yang ia berikan kepada seorang siswa dirasa masih kurang untuk ditambah sendiri, “pokoknya fleksibel lah ! “,ujarnya. Dan selanjutnya Pak Dul segera meninggalkan sekolah dengan mobil barunya. Wes... hewes... Pak Dul Langsung Bablas.
Saat ini profesiguru mempunyai daya tarik tersendiri, setelah pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru dengan memberikan tunjangan profesi. Langkah yang diambil pemerintah nampaknya menjadikan guru sebagai profesi yang diperhitungkan dibandingkan dengan profesi lainnya. Banyak generasi muda,yang sebelumnya enggan untuk menjadi guru karena dianggap sebagai profesi yang kurang bergengsi ,sekarang mulai berbondong-bondong memasuki Lembaga kependidikan calon guru. Bahkan para sarjana yang bukan dari lembaga tenaga kependidikan banyak yang putar haluan memilih menjadi seorang guru.
Profesi guru sendiri di indonesia sebelumnya dianggap sebagai profesi kelas dua, hal ini terkait dengan minimnya imbalan yang diperoleh guru dibandingkan dengan profesi lainnya semisal, dokter. Akibat dari hal tersebut profesi guru kurang diminati oleh putra-putra terbaik dari masyarakat. Mereka lebih tertarik dengan profesi-profesi yang lebih menanjikan masa depan dengan penghasilan finansial yang memadai.
Berkaitan dengan profesi guru berkembang di masyarakat mitos-mitos yang dapat menghambat profesionalitas guru. Mitos-mitos tersebut diharapkan dapat segera didobrak agar tidak membelenggu perkembangan profesi guru. Demitologisasi perlu dilakukan agar guru dapat ditempatkan sebagai profesi yang terhormat dan meningkatnya apresiasi orang tua , masyarakat terhadap profesi guru.
Adapun mitos-mitos yang masih berkembang di masyarakat berkaitan dengan profesi guru diantaranya adalah :
a.Guru adalah Profesi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Ungkapan guru pahlawan tanpa tanda jasa memang terasa manis. Ungkapan tersebut sebenarnya terkandung makna penempatan guru sebagai profesi mulia. Akibat ungkapan tersebut ada kesan bahwa guru tidak terlalu membutuhkan imbalan dalam menjalankan profesinya. Jika ada guru yang menuntut perbaikannasib berkaitan dengan profesinya , dianggap sebagai bukan guru sejati. Guru ditabukan melakuakan tuntutan-tuntutan perbaikan nasib dalam bentuk materi.
Saat ini sudah selayaknya guru mempunyai posisi tawar untuk selalu memperjuangkan kehormatan dan perolehan imbalan yang layak bagi penghidupan . Profesi guru sebagaimana profesi yang lainnya diharapkan mampu menyejahterakan. Guru yang sejahtera akan lebih konsern dalam membina peserta didik menjadi manusia-manusia yang unggul.
b.Setiap Orang bisa menjadi guru
Ungkapann bahwa setiap orang bisa menjadi guru menjadikan guru sebagai profesi terbuka, siapa saja dapat dan boleh menjadi guru. Hal ini berakibat pada orang-orang yang tidak mempunyai dasar-dasar kependidikan akan mudah menjadi guru. Dampak dari pemahaman ini adalah peserta didik akan mendapat layanan pendidikan dari orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi kependidikan.Sudah dapat dibayangakan kualitas dari output yang dihasilkan dari proses pendidikan semacam ini.
Seseorang menjadi guru hendaknya merupakan pilihan bukan keterpaksaan atau pelarian. Oleh karena itu seseorang menjadi guru harus mempunyai dasar-dasar ilmu kependidikan yang memadai dan kompetensi yang sesuai. Dengan demikian profesi guru bukanlah profesi yang terbuka, dimana untuk menjadi guru hendaknya memnuhi kriteria-kriteria profesional. Jika semua guru mampu memenuhi kriteria keprofesionalan maka profesi guru akan lebih dihargai dan dihormati.
c.Profesi Guru Bukanlah Suatu Profesi Pekerja
Seringkali kita di kalangan guru ,masih tabu menyebut guru sebagai profesi pekerja. Sebutan guru sebagai suatu profesi pekerja seolah menyetarakan guru dengan pekerja-pekerja kasar pabrik. Sehingga ada perasaan tabu jika guru akan melakukan demonstrasi atau protes terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan yang merugikan peserta didik maupun guru.
Guru disamping seorang pendidik juga pekerja yang mempunyai hak dan kewajiban. Sudah sewajarnya jika guru mealakukan tuntutan pemenuhan hak-hak yang harus diperoleh sebagai seorang pekerja sebagaimana pekerja-pekerja lain di dalam masyarakat modern. Bukanlah hal yang tabu guru yang ideal dan profesional memperjuangkan peningkatan kualitas hidupnya guna lebih mendorong pengabdiannya kepada peserta didik dan masyarakat.
d.Guru adalah Profesi yang Cocok untuk Perempuan
Saat ini ada kecenderungan semakin banyaknya perempuan yang memasuki profesi guru.Banyaknya perempuan yang memilih profesi guru sempat dikhawatirkan mempengaruhi pola didik terhadap siswa . Dikahawatirkan akan tumbuhnya siakp keperempuanan terhadap peserta didik. Kekhawatiran ini tentunya tidak mempunya dasar yang kuat, bisa jadi merupakan bentuk bias gender yang tidak pada tempatnya.Profesi guru yang erat dengan kegiatan mendidik sering dikaitkan dengan tugas ibu untuk mendidik anak. Akibat dari pemahaman ini muncul image bahwa profesi guru hanya cocok untuk perempuan.
Semakin banyaknya perempuan yang memasuki profesi guru juga dikaitkan dengan pendapat bahwa perempuan puas dengan imbalan gaji yang kecil. Tentunya ini sangat merugikan bagi ptofesi guru khususnya guru perempuan. Tindakan diskriminasi terhadap guru perempuan sering terjadi akibat sikap “nrimo” , tidak suka protes terhadap ketidak adilan yang dialaminya. Tentunya sudah selayaknya perempuan yang memasuki profesi guru mendapatkan hak dan perlindungan yang sama dengan apa yang diperoleh kaum pria.
e.Guru Pantang Berpolitik
Pandangan bahwa guru sebagai profesi yang selalu menjunjung etika mengakibatkan muncul mitos bahwa guru pantang berpolitik. Ungkapan politik itu kotor dan berorientasi pada kekuasaanmemunculkan sikap ketertutupan guru untuk berpolitik.
Pada saat ini guru perlu menggalang kekuasaan agar kepentingan peserta didik dapat dilindungi dan dikembangkan. Melalui organisasi-organisasi profesi guru diharapkan mampu membentuk kekuatan yang mampu menjadi kelompok-penekan (pressure group)yang dapat melobi parlemen serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya guna memperjuangkan dunia pendidikan yang dapat membangun masyarakat indonesia yang lebih demokratis.
Mitos-mitos di atas nampaknya perlu dikikis guna selalu meningkatkan perkembangan profesi guru yang lebih bermartabat. Peningkatan perkembangan profesi guru hendaknya dilihat sebagai bentuk usaha pembenahan pendidikan nasional yang lebih berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan nasional berdampak pada peningkatan kulitas sumber daya manusia indonesia. Manusian –manusia indonesia yang berkualitas akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat.
Sumber Bacaan : MEMBENAHI PENDIDIKAN NASIONAL, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed, 2002
Anak-anak memiliki tangki emosional yang harus penuh.Tidak boleh kurang isinya , apalagi kosong. Cintalah yang mampu memenuhi tangki tersebut. ( Gary Chapman )
Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak jarang tanpa sengaja mematahkan semangat siswa. Tindakan yang dilakukan guru mungkin mempunyai maksud baik, namun tanpa disadari justru membuat siswa patah semangat dan frustasi. Adapun tindakan tindakan yangdapat mematahkan semangat siswa diantaranya :
a.Mentapkan standar yang sangat tinggi dan tidak realistis yang menuntut kesempurnaan.
Guru tentunya berharap siswanya dapat berprestasi secara maksimal. Guna mencapai harapan tersebut guru menetapkan target atau standar capaian minimal yangharus diperoleh siswa. Namun tanpa disadaritarget yang ditetapkan diatas kemampuan rata-rata siswa. Hal ini berakibat pada sebagian siswa tidak dapat mencapai target yang diharapakan.Penetapan standar penilaian yang menuntut kesempuranaan sering juga dilakuakan oleh guru. Penetapan ini biasanya bersandar pemikiran yang bersifat subyektif. Kegagalan siswa dalam memenuhi target atau standar yang telah ditetapkan jika terjadi berulang-ulang akan menimbulkan patah semangat dan frustasi.
b.Memotifasidengan memfokuskan pada kesalahan-kesaahan yang dilakukan siswa.
Salah satu peran guru yang tak kalah pentingnya adalah sebagai motivator. Kegiatan motivasi siswa merupakn kegiatan positif yang biasa dilakukan guru pada awal pelajaran atau pada saat pembinaan. Namun sayang beberapa guru masih menggunakan kesalahan-kesalahan siswa sebagai fokus pemberian motivasi. Hal ini tentunya sering memposisikan siswa bak pesakitan yang diharapakn melakukan pertobatan. Siswa akan merasa rendah diri, kurang percaya diri karena selalu diposisikan sebagai subyek pelaku kesalahan. Jika ini dilakukan sebagian besar guru maka siswa justru cenderung mengulang kesalahan yang telah dilakukan. Siswa akan merasa orang yang memang selalu berbuat kesalahan.
c.Membuat interpertasi yang pesimistis
Kejujuran merupakan sesuatu hal yang diutamakan dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian perlu berhati-hati dalam mengungkap kondisi atau potensi siswa yang dihadapi. Guru yang mengungkap rendahnya hasil belajar atau potensi siswa ada kemudian dilanjutkan dengan ungkapan pesimis untuk prestasi siswa selanjutnya dapat berakibat kurang baik. Tentunya maksud guru tersebut untuk memberi gambaran secara jujur agar siswa lebih berusaha keras dalam mencapai prestasi belajar. Namun demikian ungkapan-ungkapan pesimis yang dilontarkan oleh guru akan menimbulkan perasaan tak berdaya pada siswa. Siswa akan merasa tidak mempunyai harapan untuk lebih meningkatkan diri. Aura kata-kata pesimis akan menyebar di dalam ruang kelas menular kepada para siswa.Jika hal tersebut terjadi harapan agar para siswa lebih meningkatkan usaha justru yang terjadim sebaliknya.
d.Membandingkan siswa satu dengan lainnya.
Dengan maksud untuk memotivasi siswa, guru tidak jarang menggunakan prestasi siswa lain yang lebih unggul sebagai pembanding. Guru berharap siswa yang prestasinya masih rendah akan berusaha mencapai nilai siswa yang dijadikan pembanding. Cara seperti ini justru berakibat kepada siswa yang prestasinya masih rendah merasa kurang dihargai sebagai pribadi yang unik. Siswa merasa diperlakukan tidak adil. Keinginan siswa menjadi diri sendiri serasa diabaikan. Akibat dari ini siswa cenderung berperilaku kebalikan dari harapan guru karena tidak ingin dibanding-bandingkan dengan orang lain. Untuk itu penghargaan kepada tiap-tiap siswa secara individu sangat penting . Lihat siswa sebagai manusia dengan potensi yang berbeda-beda dengan kelebihan dan kekurangan masing-maisng.
e.Mendominasi dengan membantu siswa secara berlebihan.
Naluri seorang guru adalah selalu ingin membantu siswanya. Namun demikian bantuan yang secara berlebih justru akan merugikan siswa. Sepintas siswa merasa senang karena segala sesuatu mendapat bantuan guru, tetapi tanpa disadari bantuan guru tersebut justru mematikan kreatifitas siswa. Dengan bantuan guru yang berlebihan siswa akan selalu dalam kondisi nyaman. Akibat dari perilaku tersebut siswa akan mengalami kesulitan ketika ia harus memecahkan masalah yang harus ia hadapi sendiri. Ketergantungan terhadap bantuan guru mengakibatkan siswa tidak mandiri. Jika semakin banyak permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikkan tanpa bantuan guru ,mengakibatkan siswa menjadi patah semangat. Untuk itu guru dalam memberi bantuan kepada siswa seperlunya saja, biarkan siswa secara kratif memecahkan masalah secara mandiri.
Sebagaiseorang pendidik niat baik membantu siswa saja tampaknya tidak cukup. Niat baik perluditunjang dengan cara-cara yang baik dalam membantu siswa. Dengandilandasi kecintaan kita kepad siswa, niscaya siswa akan merasa nyaman sebagai dirinya dan kepada kita sebagai seorang guru.
Sumber bacaan : Kiat Nyaman Mengajar di Dalan Kelas , Ronald L partin,2009
Jika Kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi , kamu akan membikin orang lain sakit.
( Lorraine Monroe )
Sebagai seorang pendidik tentunya sudah terbiasa menamui para siswa yang melanggar tata tertib, berperilaku menyimpang, mengganggu kegiatan pembelajaran dan perilaku-perilaku sejenis . Tentunya terhadap siswa berperilaku demikian sebagai seorang pendidik tidak akan tinggal diam. Perlu adanya punishment atau hukuman bagi siswa yang berperilaku negatif. Sering dalam memberikan hukuman guru terprovokasi untuk menggunakan hukuman badaniah guna menghentikan perilaku negatif siswa. Tidak jarang dalam menggunakan hukuman badaniah guru cenderung berlebihan.Dalam kasus-kasus tertentu bahkan hukuman badaniah yang dilakukan oleh guru berakhir di meja hijau.
Saat ini hukuman badaniah yang berlebihan dapat dikategorikan sebagai bentuk malpraktik yang dilakukan guru.Guru dituntut menghindari pemberian hukuman badaniah untuk mengatasi perilaku negatif siswa. Guru diharapkan menggunakan cara-cara yang bersifat mendidik dalam memberikan hukuman kepada siswa. Pada kenyataannya sulit dihindari untuk tidak menggunakan hukuman badaniah kepada siswa yang cenderung berperilaku negatif secara berulang-ulang dan dapat membahayakan bagi siswa lainnya. Posisi dilematis semacam inilah yang tampaknya perlu dicermati agara kasus-kasus terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan guru kepada siswa dalam konteks pemberian hukuman terulang lagi.
Penggunaan hukuman badaniah saat ini memang perlu dikaji ulang. Meskipun ada yang masih melihat hukuman badaniah sebagai cara efektif menghentikan perilaku negatif siswa dan penggunaannya sebagai hukuman yang terakhir. Cukup menarik apa yang diungkap oleh Roland L. Partin dalam bukunya yang berjudl "Kiat nyaman Mengajar di Kelas " berkaitan dengan hukuman badaniah kepada siswa. Diungkapkan beberapa fakta tentang praktik-praktik hukuman badanih diantaranaya sebgai berikut :
Hukuman badaniah lebih sering terjadi di tingkat dasar dan menengah .
Anak laki-laki lebih sering dipukul daripada anak perempuan.
Anak-anak minoritas menerima hukuman badaniah empat atau lima kali lebih banyak.
Guru yang sering menggunakan hukuman badaniah cenderung bersifat diktaktor, dogmatis,relatif tidak berpengalaman, impulsif dan penggugup dibanding rekan-rekannya.
Guru yang menggunakan hukuman badaniah kecenderungan mempunyai masa lalu sering diberi hukuman pada masa kecilnya.
Disamping fakta-fakta di atas penggunaan hukuman badaniah mempunyai dampak negatif.Beberapa dampak negatif tersebut diantaranya :
Hukuman badaniah tidak serta merta menghapus perilaku yang tidak diinginkan. Ia hanya bersifat menekan.
Seringnya anak mengalami hukuman fisik mempunyai kecenderungan melakukan kekerasan fisik dalam kehidupan sesudahnya.
Hukuman badaniah memunculkan ketidakadilan tentang siapa yang akan dihukuman. Hukuman badaniah cenderung mempertimbangkan suku,ras, gender dan tingkat sosio-ekonomi siswa yang akan mendapat hukuman.
Hukuman badaniah menuntun kepada reaksi stres, rasa takut ke sekolah, mimpi buruk, kehilangan selera makan, dan perasaan gugup.
Sekolah yang sangat ,mengandalkan hukuman badaniah cenderung mengalami tingkat absensi, pembolosan dan tidak melanjutkan sekolah yang tinggi.
Hukuman badaniah dapat meracuni hubungan guru-sisa dan rasa ketidakpercayaan. Rasa takut siswa tida sama dengan rasa segan.
Pelarangan hukuman badaniah tidak mengakibatkan peningkatan siswa yang nakal bahkan tingkat vandalisme berkurang.
Meningkatnya resiko tuntutan atau tuduhan malpraktik oleh guru karena penerapan hukuman badaniah.
Meskipun hukuman badaniah ditengarai lebih banyak dampak negatinfya daripada positifnya, tidak semua negara melarang penggunaan hukuman badaniah. Adapun negara-negara yang melarang penggunaan hukuman badaniah diantaranya, negara-negar Eropa, Jepang Israel, Rusia, China, Turki, Irkandia , Puerto Rico.
Di Amerika sendiri penggunaan hukuman badaniah masih tolerir meskipun mendapat tentangan dari berabgai lembaga swadaya masyarakat. Di beberapa negara bagian Amerika penggunaan hukuman badan dibatasi dengan ketat. Hukuman badaniah hanya dapat dilakuakan setelah mendapat izin orang tua, harus ada saksi , dilakukan tidak di depan siswa lainnya.
Di indonesia sendiri penggunaan hukuman badaniah belum ada pelarangan secara eksplisit. Namun demikian tampaknya dengan adanya wacana tentang hal-hal yang dapat dkategorikan sebagai malpraktik guru,diterbitkannya kode etik guru, kemudian Undang-Undang Perlindungan anak, tampaknya penggunaan hukuman badaniah sangat tidak dianjurkan.
Selanjutnya sebagi seorang pendidik guru diharapkan lebih kreatif menggali cara-cara yang lebih mendidik dalam menerap hukuman kepada siswa. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah dalam memberikan hukuman hendaknya dilandasi dengan rasa kasih sayang.Penerapan hukuman dilandasi dengan tujuan untuk mencegah siswa terjebak dalam perilaku negatif yang berkelanjutan sehingga berdampak kurang baik bagi masa depannya.
Kunci utama dari pemberian hukuman kepada siswa adalah kasih sayang dan ketulusan. Dengan kasih sayang dan ketulusan siswa akan dapat menerima hukuman sebagai bentuk konskuensi dari perbuatan yang dia lakukan. Selanjutnya dengan bimbingan yang tulus siswa kan menyadari kekeliuran dan dengn kesadaran kan memperbaiki perilakunya.Pemberian hukuman yang dilandasi rasa emosional atau pelampiasan kekesalan justru berpotensi menambah masalah.
Patut direnungkan sebuah ungkapan berikut :
"Seorang guru sebaiknya hanya dipersenjatai dengan pengetahuan. Hukuman badaniah adalah senjata yang kejam dan sudah kuno " ( Tajuk Renacana USA Today, 22 Agustus 1990 )
Sumber bacaan : Kiat Nyaman Mengajar di Dalan Kelas , Ronald L partin,2009
Guru mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukkan karakter bangsa.Guru sebagai ujung tombak pendidikan mempunyai kesempatan untuk mengasah dan menumbuhkan karakter siswa. Dengan pengaruhnya guru diharapkan mampu membentuk karakter positif siswa. Siswa sebagai tunas-tunas bangsa yang berkarakter positif inilah yang diharapkan mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat.
Pendidikan adalah sarana yang dipercaya dan terbukti mampu membawa suatu bangsa pada kemajuan di segala bidang.Sumber alam yang melimpah,jumlah penduduk dan lamanya usia suatu bangsa tidak menjamin akan membawa bangsa tersebut pada kemajuan.Sejarah membuktikan bangsa yang mempunyai kemajuan pendidikan meskipun dengan sumber daya alam yang terbatas dan usia bangsa yang relatif belum lama mampu membawa kemajuan di berbagai bidang.Dan peran gurulah yang diharapkan mampu membawa pendidikan yang lebih berkualitas.
Begitu strategisnya peran guru dalam membawa suatu bangsa dalam mencapai kemajuan saat ini profesi guru mendapat perhatian khsusus dari pemerintah. Salah satu bentuk perhatian tersebut adalah peningkatan kesejahteraan dengan pemberian tunjangan profesi.Hal tersebut tentunya mempunyai konsekuensi peningkatan kinerja dan profesionalisme guru.
Tidak hanya pemerintah, masyarakatpun juga menaruh harapan terhadap besar kepada guru terhadap peningkatan kualitas pendidikan putra-putrinya. Bahkan pengaharapan tersebut kadang terlalu berlebih sehingga semua terkait dengan pendidikan siswa dipasrahkan terhadap guru.
Akibat dari ekspektasi yang berlebih terhadap guru, ketika anak didik melakukan kenakalan ,kejahatan atau perilaku negatif lainhya guru selalu menjadi sasaran sumber kesalahan.Muncul berbagai macam pendapat negatif seperti, tentang kesalahan pola pengajaran guru, sistem mendidik guru yang salah, guru kurang profesional dan pendapat-pendapat negatif lainnya. Dalam hal ini guru sering dijadikan kambing hitam dan selalu terseret dalam lembah ketidakadilan. Masyarakat cenderung menganggap guru sebagai superman, profesi yang bisa segala-galanya termasuk mampu mengatasi segala problematika siswa yang begitu kompleks.
Sindrom Superman juga sering menjakiti kalangan guru.Tidak jarang guru merasa dirinya mampu menanggulangi semua problematika siswa. Di kelas guru sering merasa sebagai pemegang otoritas kebenaran, sehingga sering mengabaikan kebenaran yang diajukan siswa. Ada guru yang merasa bersalah yang berkepanjangan saat gagal menghantarkan siswanya mencapai prsestasi yang diharapkan dimana rasa bersalah yang berkepanjangan ini mengakibatkan terganggunya kinerja sang guru. Sindrom Superman juga berdampak negatif terhadap siswa, karena guru merasa paling segalanya, muncul sikap arogan sang guru, yang berpotensi terjadinya malpraktik oleh guru.
Untuk menghindari kesan guru sebagai superman atau sindrom superman oleh guru perlu mendudukan profesi guru secara proporsional. Berkaitan dengan kenakalan atau kejahatan yang dilakukan siswa, perlu dilihat juga pengaruh yang ada dalam diri siswa, lingkungan dan keluarganya. Terlalu naif jika hanya aspek guru saja yang dilihat jika terjadi kenakalan siswa. Dalam hal ini guru hanya unsur di luar siswa yang berusaha mempengaruh siswa sehingga muncul potensi positif siswa. Pengaruh positif yang diberikan guru belum tentu diterima siswa, karena siswa mempunyai hak untuk menetukan pilihan jalan hidup yang ditempuhnya. Bagi guru harus menyadari ada batas-batas kemampuan guru saat mendidik siswa, tidak semua masalah siswa bisa terpecahkan di sekolah bahkan mungkin perlu pihak-pihak lain yang lebih berkompeten saat menangani siswa bermasalah. Di samping itu perlu kesadaran bahwa guru juga manusia biasa yang memungkinkan untuk berbuat kesalahan, karena itu kebenaran bisa datang dari siapa saja bahkan dari anak didiknya.
Alasan guru bukan superman atau guru adalah manusia biasa jangan dijadikan dalih untuk menghindar dari tanggung jawab yang lebih besar berkaitan dengan kenakalan atau kejahatan yang dilakukan oleh siswa yang saat ini cukup marak. Para guru hendaknya lebih berani mengambil peran yang lebih besar dalam menangani kenakalan atau kejahatan yang dilakukan peserta didiknya.Guru harus selalu berusaha memberikan yang tebaik bagi anak didiknya. Kepuasaan seorang guru adalah ketika mampu menghantarkna anak didiknya menjadi manusia yang mandiri dan berguna bagi orang-orang yang disekitarnya.
Seiring dengan pelaksanaan Ujian Nasional, saat ini di sekolah muncul istilah guru UN dan guru Non UN. Istilah guru UN ditujukan kepada guru yang mengampu mata pelajaran yang diujikan Ujian Nasional, sedang guru non UN adalah sebutan untuk guru mata pelajaran yang tidak diujikan di Ujian Nasional.Untuk di SMP guru UN adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia , Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.
Kesenjangan antara guru UN dan guru non UN akan semakin terlihat saat menjelang pelaksanaan UN. Guru UN akan sering memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan dari pelatihan tentang penyusunan soal sampai dengan bedah SKL.Seorang guru UN dapat mengikuti pelatihan lebih dari 3 kali dalam satu bulan. Pelatihan diselenggarakan dari tingkat kabupaten sampai dengan tingkat provinsi. Frekuensi pelatihan yang relatif padat yang diikuti oleh guru UN, dapat menimbulkan kecemburuan dari guru non UN, Apalagi di era sertifikasi guru, keikutsertaan pelatihan merupakan sesuatu kegiatan yang diharapkan guru karena disamping dapat meningkatkan kompetensi juga sertifikat yang diperoleh sangat bermanfaat pada saat pengajuan portofolio dalam rangka sertifikasi guru.
Untuk tingkat sekolah sendiri, guru UN juga mendapat perhatian khusus di sekolah. Adanya jam tambahan pelajaran sekolah menyediakan anggaran khusus. Anggaran tersebut disamping untuk sarana belajar siswa juga untuk honor lembur dan konsumsi guru UN.Perlakuan semacam ini tidak jarang di beberapa sekolah memicu kecemburuan antar guru.
Bagi guru UN sendiri sebenarnya saat menjelang UN adalah saat beban mental semakin bertambah. Pada saat menjelang UN guru UN dituntut untuk menyediakan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih.Adanya honor lembur dan konsumsi yang disediakan sebenarnya tidak sebanding dengan beban mental yang ditanggung guna menghantar siswa lulus Ujian.
Banyaknya siswa yang tidak lulus Ujian merupakan pukulan berat bagi guru UN. Komentar-komentar yang memojokkan guru UN menambah beban yang disandangnya.Di sinilah mental seorang guru UN sering diuji. Bahkan tidak jarang guru mapel yang di UN kan enggan untuk mengajar kelas 9 untuk SMP atau guru kelas 12 untuk SMA.
Sudah saatnya istilah guru UN dan guru non UN dihilangkan. UN hendaknya menjadi tanggung jawab semua warga sekolah tidak terkecuali. Lingkungan sekolah yang kondusif yang terbebas adanya saling kecemburuan dan saling menyalahkan akan menumbuhkan energi positif guna menghantarkan siswa lulus ujian dengan prestasi yang optimal.
1.1 Latar Belakang Masalah
Budaya belajar pada siswa SMP Negeri 2 Baturraden khususnya siswa kelas IX tergolong rendah. Hal ini dapat disimpulkan dari diskusi-diskusi kecil para guru pada saat jam istirahat. Para guru rata-rata mengeluhkan rendahnya kesadaran siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas-tugas mandiri.Pada saat kegiatan belajar di kelas sebagian besar siswa cenderung pasif. Hal ini juga terjadi pada kegiatan belajar mengajar matematika. Akibat dari kondisi ini rata-rata prestasi belajar siswa menjadi rendah.
Rendahnya motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas IX berakibat pada hasil Ujian Nasional yang kurang memuaskan, bahkan tingkat kelulusan kelulusan tiga tahun terakhir kurang dari 90%. Dari hasil Ujian Nasional dapat diketahui terdapat kesenjangan antara siswa yang bernilai rendah dan yang bernilai tinggi. Hal ini menununjukkan adanya ketidak merataan pemahaman materi pelajaran pada siswa.Pada siswa yang aktif relatif mendapat nilai yang tingi sedang pada siswa yang pasif rata-rata nilainya rendah.
Hasil Ujian Nasional Siswa SMP Negeri 2 Baturraden
Dari Tahun Pelajaran 2005/2006 s.d 2007/2008
Tahun Pelajaran
Mata Pelajaran
Rata-rata
%Kelulusan
B.Indonesia
B. Inggris
Matematika
I P A
2005 / 2006
7,65
5,47
5,44
_
6.19
60,98
2006 / 2007
7,58
5,31
5,71
–
6.20
83,25
2007 / 2008
7,14
5,05
5,33
5,71
5.81
83,00
Jika dilihat pada tabel di atas rata- rata nilai matematika masih di bawah 6. Bahkan siswa yang tidak lulus rata-rata dikarenakan nilai mata pelajaran matematika masih di bawah nilai standar kelulusan. Sebenarnya materi uji matematka pada UN tahun 2007 dan 2008 lebih simpel karena mengacu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), dimana pada kurikulum KTSP muatan materinya lebih ringkas dibanding kurikulum 1994 .
Adapun bentuk perilaku pasif yang sering ditunjukkan siswa pada saat KBM diantaranya adalah, kurang berani bertanya, takut menjawab pertanyaan yang diberikan guru, lebih senang berdiam diri daripada memberikan pendapatnya , bahkan berbicara atau bercanda dengan teman sebangku. Berangkat dari kondisi tersebut tersebut muncul gagasan sebuah strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meminimalisasi permasalahan di atas.
.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, masalah utama yang mendesak untuk diselesaikan adalah mebangun kesadaran belajar dan sikap aktif yang dimiliki siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden dalam kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepad siswa diperoleh informasi hanya sekitar 45% siswa yang mempunyai sikap aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Berdasarkan analisis penyebab terjadinya masalah (probable causes) dengan menggunakan, brainstorming dengan guru sejawat, dan pengalaman peneliti sebagai guru matematika, penyebab yang paling mungkin munculnya masalah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Masalah yang bersumber dari guru :
1. Selama proses pembelajaran matematika berlangsung, guru masih dominan menggunakan metode ceramah. Sehingga keaktifan siswa menjadi rendah.
2. Guru jarang menggunkan model pembelajaran kooperatif atau belajar berkelompok.
3. Guru beranggapan pembelajaran kooperatif akan memakan waktu dan tenaga sehingga ketuntasan materi dikhawatirkan tidak tercapai.
4. Guru yang menggunakan model pembelajaran koopertif sering bersifat kompetitif sehinga siswa yang berprestasi rendah semakin tersingkir.
b. Masalah yang bersumber dari siswa :
1. Sebagian besar siswa masih beranggapan guru sebagai orang yang harus ditakuti bukan orang yang harus didekati.
2. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena takut dianggap bodoh oleh teman-temannya.
3. Kurang berani mengeluarkan pendapatnya karena takut salah.
4. Siswa yang pandai cenderung enggan untuk membantu teman yang masih belum paham materi yang diajarkan guru
5. Siswa yang pandai lebih senang mengelompok dengan teman-teman yang prestasinya setara.
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Sekurang-kurangnya 45% siswa kelas 9 A SMP Negeri 2 Baturraden Tahun Pelajaran 2008/2009 kurang berperan secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Untuk menyelesaikan masalah dia atas perlu dilihat dari penyebab utama yang ada. Perlu strategi pembelajaran yang mampu meminimalisasi permasalahan di atas. Suatu strategi diharapkan mampu menggerakkan siswa untuk lebih aktif saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Strategi yang juga mendororng siswa yang pandai untuk peduli kepada temannya, sehinga terjadi prosese belajar yang bersifat kolaboratif.
Dalam prosese belajar mengajar tampaknya perlu memberikan tanggung jawab kepada siswa yang pandai untuk membantu guru dalam membimbing temannya yang mengalami kesulitan belajar dalam pembelajaran matematika. Hal ini dirasa perlu dilakukan dikarenakan masih banyaknya siswa kurang terbuka menyatakan kesulitan yang dialami kepada guru. Permasalahan ini bisa disebabkan karena faktor malu, takut atau kesuliatn secara verbal berkomunikasi dengan guru. Biasanya siswa dengan kesulitan semacam ini akan lebih mengkomunikasikan kesulitannya kepada teman sebayanya.
Salah satu strtegi pembelajaran yang diyakini mampu mengatasi permaslahan di atas adalah strategi pembelajarn tutor sebaya atau peer tutor.Dalam penggunaan strategi tersebut penulis mengembangkan menjadi peer tutor plus Strategy. Dalam strategi ini siswa yang berperan sebagai tutor diberi peran layaknya seorang guru, yang tidak hanya membimbing siswa yang mempunyai kemampuan di bawahnya juga melakukan pengamatan perkembangan hasil belajar temannya yangs selanjutnya dilaporkan secara berkala kepada guru. Siswa sebagai tutor menginventarisasi perkembangan siswa baik yang berupa nilai tugas, ulangan maupun sikap siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.Dari hasil laporan inilah yang akan digunakan oleh guru untuk melakukan tindak lanjut kegiatan belajar ,mengajar berikutnya.. Dengan strategi ini diharapkan tidak hanya keaktifan siswa yang meningkat juga penilian autentik juga dapat terlaksana. .
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian
Meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di SMP Negeri 2 Baturrdaen ditunjukkan dengan meningkatnya prosentase siswa yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar diikuti dengan meningkatnya prestasi
belajar siswa.
Tujuan khusus penelitian
Pada akhir siklus pada semester genap tahun 2008/2009 siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar matematika meningkat secara signifikan , diikuti dengan peningkatan prestasi belajar berupa peningkatan kualitas dan kuantitas lulusan.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini telah memberi manfaat bagi beberapa pihak, di antaranya :
Bagi peserta didik
1. Tumbuhnya kesadaran siswa untuk selalu brepartispasi aktif dalam setiap kegiatan belajar mengajar,
2. Siswa merasa senang dengan pembelajaran matematika karena tidak merasa canggung untuk bertanya, meminta penjelasan berkaitan dengan kesulitan belajar yang dialaminya ,
3. Dapat melatih kepedulian siswa yang prestasi matematikanya di atas rata-rata kepada siswa yang pretasinya masih rendah, sehingga dapat meminimalisasi egoisme siswa.
Bagi guru
Strategi belajar ini dapat menjadi alternatif bagi guru yang mempunyai permaslahan siswa dengan keaktifan dan prestasi belajar yang relatif rendah .
Bagi sekolah
Memberikan sumbangan dalam peningkatan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Baturraden, Kabupaten Banyumas.
Bagi masyarakat
Karena siswa siswa dibiasakan untuk selalu aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan selalu didorong untuk peduli kepada teman, maka sifat dan perilaku tersebut diharapkan akan terbawa dalam kehidupan bermasyara
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
Peer – Tutor ( Tutor Sebaya )
Kelompok sebaya merupakan wadah yang sangat penting bagi terselesaikannya tugas-tugas perkembanganyang dihadapi para siswa. Di sinilah peran-perannya menurut jenis kelamin masing-masing. Mereka belajar berkooperasi, berkompetisi, belajar ketrampilan-ketrampilan sosial, belajar tentang nilai-nilai, hidup bergotong royong dalam kehidupan bersama menuju tujuan-tiujuan bersama-sama. ( Oemar Hamalik,2003).
Dalam kegiatan belajar di kelas sering guru merasa kesulitan untuk menanganai siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini dimungkin rata-rata kelas yang ada adalah kelas gemuk yaitu kelas dengan jumlah siswa rata-rata dia atas 35 siswa. Untuk mensiasati kondisi tesebut guru dapat meminta bantuan kepad siswa yang semsetinya memperoleh program pengayaan untuk menjadi Peer – Tutor atau Tutor sebaya. Menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain (2006) ada beberapa manfaat dari kegiatan Tutoring ini, yaitu :
a. Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunya perasaan takut atau enggan kepada guru.
b. Bagi Tutor, perkerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang di bahas. Dengan memberitahukan kepada anak lain, maka seolah-olah ia menelaah serta menghapalkannya lagi.
c. Bagi Tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran.
d. Mempererat hubungan anatara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.
Pendekatan Kolaboratif
Pada kegiatan pembelajaran saat ini berkembang pendekatan pembelajaran kooperatif yang bersifat kompetitif. Dimana dalam pembelajaran tersebut tiap kelompok didorong untuk saling mengungguli satu dengan yang lain.. Akibat dari pendekatan ini tidak jarang terjadi kesenjangan kemampuan yang dipero;eh tiap-tiap kelompok pada saaat kegiatan pembelajaran. Kelompok yang unggul cenderung tidak mau berbagi pnegetahuan terhadap kelompok yang lain. Kelompok yang unggul menganggap kelompok lain sebagi pesaing. Akibatnya kelompok yamng mempunyai kemampuan rendah sulit untuk mengikuti kemampiuan kelompok yang unggul. Lebih lanjut dari kondisi tersebut adalah kelompok dengan kemampuan rendah selalu tertingga; dan frustasi. Hal lain yang mungkin terjadi adalah guru cenderung memperhatikan kleompok siswa yang memiliki kemampuan yang baik.
Untuk menghindari kondisi dia atas perlu dilakukan pendekatan yang tidak hanya menekankan pada persaingan. Suatu pendekatan yang memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa yang saling bekerja sama dalam pencapaian penguasaan materi pelajara. Dimana terjadi siswa atau kelompok yang sudah menguasai materi pelajaran mengajar kepada siswa yang belum menguasai. Pendekatan kerja sama ini sering disebut dengan Pendekatan Kolaboratif.
Menurut Tim Widiaiswara LPMP Jateng ( 2008 ) dalam pendekatan Kolaboratof dimungkinkan terjadi saling belajar membelajarkan antar siswa sehingga pencapain belajar siswa relatif sama.
Kerja sama dapat menghilangkan hambatan mental akibat terbatasnya dan cara pandang yang sempit. Jadi akan lebih mungkin untuk menemukan kekuatan dan kelemahan diri, belajar menghargai orang lain, mendengarkan dengan pikiran terbuka, dan membangun persetujuan bersama. Dengan bekerja sama, para anggota kelompok kecilakan mampu mengatasi berbagi rintangan, bertindak mandiri dan dengan penuh tanggung jawab, mengandalkan bakat setiap anggota kelompok, mempercayai orang lain, mengeluarkan pendapat dan mengambil keputusan. ( Elaine B. Johnson, 2007 )
Pembelajaran Matematika
Refleksi dan komunikasi adalah proses yang saling terjalin dalam belajar matematika. Dengan perencanaan dan dan perhatian yang eksplisit oleh para guru ,komunikasi untuk tujuan-tujuan refleksi bisa menjadi suatu bagian yang alamiah dari belajar matematika.Para siswa yang masih anak-anak dapat diminta untuk ”berpikir dengan keras” , dan pertanyaan –pertanyaan cermat yang diajukan oleh guru atau teman sekelas bisa memancing mereka untuk meninjau kembali penalaran mereka. Dengan pengalaman , para siswa akan memperoleh pengalaman dalam mengatur dan menacatat pemikiran mereka.(Prof. Wahyudin, 2008)
2.2 Kerangka Berpikir
Untuk medukung terwujudnya komunikasi anatar siswa yang dapat membangun pemahaman dalam pembelajaran matematika, guru membentuk situasi kelas yang mendukung terbentuknya komunitas diamaa dalam komunitas tersebut para siswa akan merasa bebas mengekspresikan gagasan-gagasan mereka.Dalam komunitas tersebut siswa dapat saling berbagi gagasan –gagasan matematis dalam cara-cara yang cukup jelas dimengerti dalam kominitas siswa tersebut.
Di tingkat SMP siswa cenderung tidak mau menonjolkan diri dalam kelompoknya, bahkan ada siswa yang cenderung menarik diri dalam kelompoknya. Untuk itu guru mempunyai peran yang sangat penting dalam penciptaan komunitas kelas yang mampu merangsang adanya komunikasi antar siswa. Perlu pembentukan kelompok komunitas yang bersifat heterogen khususnya pada kemampuan akademik . Melalui kelompok tersebut diharapkan mampu memecahkan kebuntuan komunikasi yang terjadi antara siswa dengan siswa maupun siswa dan guru.
Empat pilar pendidikan sejagat yang dicanangkan oleh UNESCO dan menopang imperatif pendidikan bagi semua (education for all) adalah learning to know, learning to be, learning to do, dan learning to live together. Paradigma dan orientasi yang demikian dipandang menuntut wawasan dan cara pandang baru dalam mengelola proses pembelajaran.
Sejalan dengan pemikiran di atas, cara pandang pembelajaran tradisional yang mengedepankan penguasaan siswa terhadap pengetahuan tentang fakta, istilah, dan isi harus berubah menjadi siswa mampu memahami, dan mengaplikasikan ide dan proses yang lebih kompleks. Pebelajar tradisional bekerja sendiri, berkompetisi satu dengan lainnya, hanya menerima informasi dari guru harus berubah menjadi pebelajar yang bekerja dalam kelompok, berkolaborasi dengan lainnya. Pebelajar mengkonstruksi, berkontribusi, dan melakukan sintesa informasi pada pebelajar modern ( Kistono, 2002), sehingga strategi pembelajaran yang disarankan adalah pembelajaran yang memberi ruang bagi pebelajar untuk mengaplikasikan gagasan-gagasannya sendiri, memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan explorasi, discovery, inventory, investigasi, (Gafur, 2003).
Pemikiran senada adalah teori baru dalam psikologi pendidikan di antaranya teori pembelajaran konstruktivisme (constructivist theories of learning). Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan, membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya, dan guru dapat memberi kesempatan untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan membimbing siswa menjadi sadar dan secara sadar pula menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (Wartono dkk, 2004). Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuannya, mereka harus bekerja memecahkan masalah, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.
Peer Tutor Plus Strategy
Berdasarkan uraian di atas, untuk menyelesaikan masalah dalam penelitian ini diperlukan strategi pembelajaran yang mampu menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah..Perlu dibentuk komunitas atau kelompok-kelompok dalam kelas yang dapat merangsang komunikasi aktif antar siswa dan siswa dengan guru. Sehingga dapat saling membantu antar siswa dalam memahami konsep-konsep dan masalah dalam belajar matematika.
Untuk menciptakan kondisi seperti di atas guru membutuhkan bantuan siswa kelompok atas yang seharusnya mendapatkan pengayaan untuk menjadi tutor bagi kelomponya yang biasa disebut dengan peer tutor atau tutor sebaya.
Adapun dalam model pembelajaran ini tutor selain bertugas membantu siswa yang mempunyai kemampuan di bawahnya juga diberi tugas mengamati perkembangan kemampuan siswa baik secara kademik maupun secara sikap diaman tutor melaporkan perkembangan temannya kepada guru secara berkala. Oleh karena itu model pembelajaran ini disebut dengan strategi pmebelajaran Peer Tutor plus..
Implementasi PEER TUTOR Plus Strategy
PEER TUTOR Plus Strategy adalah strategi pembelajaran yang memanfaatkan siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata di kelasnya sebagi tutor teman sebaya dalam kelompoknya dan juga melaporkan perkembangan belajar teman-teman dalam kelompoknya secara berkala kepada guru,
. Adapun langkah-langkah strategi pembelajarn Peer Tutor plus adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan Kelompok
Dibentuk kelompok heterogen baik dalam kemampuan akademis maupun jenis kelamin.Hal ini dilakukan agar siswa terbiasa dalam berinteraksi seacar social tanpa mebeda-bedakan kemampuan dan jenis kelamin sehingga mempunyai sikap terbukap dan toleran keopada sesame.
2. Pendampingan oleh Tutor
Bekerja dalam kelompok kooperatif untuk memecahkan soal atau masalah yang diberikan oleh guru. Siswa yang berperan sebagai tutor melakukan pembimbingan kepad siswa yang kurang memahami penjelasan atau masialah yang diberikan oleh guru.. Bagi tutor yang tidak dapat menjawab pertanyaan teman dalam kelompoknya dapat meminta bantuan guru.
3. Penugasan oleh guru
Guru memberi kan tugas kelompok dari buku siswa atau Lembar Kerja Siswa. Tutor melakukan pembimbing kepada siswa yang mengalami kesulitan.
4. Diskusi Kelompok
Upaya untuk mendapatkan penyelesaian yang tepat dari pemecahan masalah atau soal yang telah diberikan. Disamping diskusi dalam kelompok juga dilakukan diskusi antar kelompok agar hasil masing kelompok dapay terkomunikasikan.Dalam hal ini guru melakukan pembimbingan seperlunya.
5. Pengamatan dan inventarisasi masalah individu oleh tutor
Tutor melakukan pengamatan sikap teman dalam kelompoknya dan perkembangan hasil belajarnya. Dalam hal ini yang perlu diinventarisir oleh tutor masalah yang dihadapi tiap individu dalam kelompoknya, untuk kemudian dilaporakan kepada guru baik secar lesan maupun tertulis.
6. Pos Tes
Diberikan tes secara individu, untuk mengetahu sejauh mana perbedaan hasil dari nilai kelompok dan nilai indivdu . Disamping itu juga untuk mengetahui sejauh mana perkembanagan prestasi belajar tiap-tiap siswa
2.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah:” Peer tutor plus Strategy“ dapat meningkatkan peran serta aktif dan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar matematika,pada siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden , Kabupaten Banyumas”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Baturraden Kabupaten Banyumas. SMP Negeri 2 Baturraden adalah salah satu sekolah di Kabupaten Banyumas, berlokasi di jalan Raya Kemutug Kidul, kecamatan Baturtraden, berjarak ± 7 km ke arah utara dari kota Purwokerto, di kaki gunung Slamet.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009. Berlangsung pada bulan januari sampai dengan April 2009.
3.2 Metode dan Rancangan Penelitian
Metode penelitian berhubungan dengan tata urutan penelitian ini akan dilakukan. Karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas maka metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek dengan tujuan membuat deskripsi yang sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 1988). Classroom Action Research dapat dikelompokkan dalam penelitian dengan metode deskriptif sekaligus metode eksperimen.
Salah satu ciri Classroom Action Research adalah cyclic atau adanya langkah-langkah yang terukur dan terencana dalam sebuah siklus. Sehingga rancangan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus melalui fase-fase Planning (Perencanaan), Acting (Tindakan), Observing (Pengamatan), dan Reflecting (Refleksi) (Kemmis dan Mc Taggart, 1992),
3.3 Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas 9 A SMP Negeri 2 Baturrden pada semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009. Kelas ini tergolong kelompok siswa dengan prestasi sedang bahkan cenderung rendah, sebuah kelas yang terdiri dari kombinasi antara siswa dengan dengan prestasi belajar yang rendah dan siswa dengan prestasi belajar peringkat sepuluh besa, juga terdapat siswa yang aktif dalam organisasi OSIS. Kondisi tersebut turut berakibat pada munculnya kesenjangan partisipasi dan prestasi dalam kegiatan pembelajaran, khususnya mata pelajaran matematika. .
3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan data
Teknik Pengumpulan Data
Fokus penelitian ini adalah partisipasi belajar siswa, kerjasama dan sikap peduli siswa terhadap teman . Untuk memperoleh data-data tersebut digunakan beberapa teknik dan alat pengumpul data di antaranya:
a. Teknik angket dan wawancara untuk data sikap
Untuk mengetahui perkembangan proses dan atau pencapaian kompetensi sikap peduli siswa.
b. Teknik tes unjuk kerja (performance test)
Digunakan untuk mengukur kinerja siswa di kelas , Penilaian ini mencakup hasil akhir serta proses pembelajaran. Dalam penelitian ini siswa melakukan melakukan kegiatan belajar yang bersifat kolaboratif.
c. Teknik pemberian tugas kelompok
Untuk mengukur aktifitas kelompok terhadap tugas yang diberikan, dan kepedulian tutor terhadap teman yang mengalami kesulitan belajar.
d. Teknik Observasi
Digunakan untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola kelas pembelajaran
e. Learning Logs siswa
Untuk mengetahui, perasaan, tanggapan, gagasan siswa yang sebenarnya tentang proses pembelajaran yang dialaminya.
Alat Pengumpul data
Sesuai dengan data yang ingin diperoleh dan teknik yang digunakan, maka alat pengumpul data yang digunakan sebagai berikut :
a. Quesioner
b. Panduan wawancara
c. Rubrik unjuk kerja
d. Lembar Observasi
e. Rubrik tugas
f. Jurnal peneliti
g. Catatan siswa
Pengumpulan data dilaksanakan secara bertahap. Data sikap partisipasi dan prestasi diambil pada saat pra siklus untuk memperoleh data awal sebelum treatment pembelajaran dilakukan dan diambil pada akhir sikulus. Data kemampuan pemecahan masalah siswa, Data kemampuan pengelolaan kelas guru diambil pada setiap fase acting pada siklus. Learning log siswa digunakan pada tahap refleksi setiap siklus dalam rangka Data Triangulation dan Source Triangulation.
3.5 Validasi Data
Validasi dan reabilitas instrumen/data digunakan practically validity/reability, artinya sepanjang peneliti dan guru mitra memutuskan bahwa istrumen layak digunakan maka instrumen/data tersebut dapat dinyatakan valid dan reliabel. Untuk meningkatkan validasi akan digunakan pula strategi berikut, yakni:
1. Face validity, Setiap anggota saling menilai/memutuskan validitas suatu instrument/data dalam proses kolaborasi.
2. Triangulation, Menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian. Perhatikan Gambar 4. Skematik Triangulation
Gambar 4. Skematik Triangulation
3.6 Analisis Data
Analisis data merupakan usaha (proses) memilih, memilah, membuang, menggolongkan data untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Sejalan pula dengan Tripp dalam Priyono (2001) menyatakan analisis data merupakan proses mengurai sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini yakni: (1). Identifikasi data, (2). Melihat pola-pola, dan (3) membuat interpretasi.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran Matematika SMPN 2 Baturraden ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika dan prestasi belajar siswa.
Untuk memastikan adanya perubahan berupa peningkatan peran aktif siswa, peningkatan kinerja guru, dan perubahan sauasana kelas, maka perlu dilihat dari berbagai sudut pandang, dengan menggunakan beberapa teknik triangulasi, yakni :
3. Theoritical triangulation, menggunakan berbagai teori dalam menelaah setiap perubahan
4. Data triangulation, mengambil data dari berbagai suasana, waktu, dan tempat
5. Source triangulation, mengambil data dari berbagai nara sumber
6. Instrumental triangulation, menggunakan berbagai macam alat/instrumen seperti telah disampaikan pada teknik pengumpulan data
3.7 Indikator Kinerja
Penelitian ini dianggap berhasil jika telah memenuhi indikator kinerja berikut:
1. Sekurang-kurangnya 75% siswa menunjukkan peran aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika di kelas.
2. Sekurang-kurangnya 75% siswa mendapat nilai ulangan di atas krteria ketuntasan minimal ( KKM ) yang telah ditentukan.
3. Sekurang-kurangnya 75% tutor aktif memberi bimbingan kepada teman dalam kelompoknya.
3.8 Prosedur Penelitian
Sesuai dengan rancangan penelitian maka prosedur penelitian ini melalui 2 siklus, sebagaimana dijelaskan berikut ini :
Siklus I
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Setelah merumuskan cara pemecahan masalah, kegiatan tahap perencanaan ini menyiapkan rencana pembelajaran meliputi: pembuatan Silabus Peer Tutor plus Strategy, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Peer Tutor plus Strategy dan Sistem Penilaian Peer Tutor plus Strategy.
Persiapan lain adalah pembuatan alat pengumpulan data meliputi: Quesioner, Lembar kerja Siswa dan rubrik, Lembar Observasi, seperti pada lampiran.
2. Tahap Pelakasanaan (Acting)
Pada siklus I, dilakukan pembelajaran dengan Peer Tutor plus Strategy yaitu:
a. Pengelompokan siswa
b. Pendampingan oleh tutor
c. Penigasan oleh guru
d. Diskusi Kelompok
e. Pengamatan dan inventarisasi maslah individu oleh tutor
f. Pos tes.
3. Tahap Pengamatan (Observing)
Kegiatan pengamatan dilakukan secara kolaboratif dengan guru mitra sebagai observer. Fokus pengamatan adalah aktifitas siswa dan guru serta interaksinya. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data berupa rubrik kinerja ilmiah, lembar observasi proses pembelajaran untuk melihat urutan kegiatan, apa yang terjadi selama proses pembelajaran, dan untuk menjamin validasi data dengan teknik triangulasi.
4. Tahap Refleksi (reflecting)
Kegiatan refleksi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam setelah fase Acting dan Observing untuk menjamin akurasi dan kesegaran data. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis, sintesis, interpretasi, menjelaskan dan menyimpulkan data temuan. Hasil refleksi pada siklus I menjadi bahan untuk memperbaiki kinerja pada siklus berikutnya.
Siklus II
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Merencanakan kegiatan pembelajaran pada siklus II. Merencanakan perbaikan kinerja pada siklus II. Membuat persiapan pembelajaran meliputi Silabus, RPP, Sistem Penilaian dengan Peer Tutor plus Strategy.
2. Tahap Pelaksanaan (Acting)
Pada siklus II, pembelajaran dilakukann dengan Peer Tutor plus Strategy..
3. Tahap Pengamatan (Observing)
Kegiatan pengamatan dilakukan secara kolaboratif dengan guru mitra. Fokus pengamatan masih tetap yakni aktifitas siswa, guru dan interaksinya. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan semua alat pengumpulan data dan untuk melihat urutan kegiatan, apa yang terjadi selama proses pembelajaran, dan untuk menjamin trianggulasi data serta validasi data.
4. Tahap Refleksi ( Reflecting )
Secara umum kegitan tahap ini sama dengan kegiatan refleksi pada siklus I. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis, sintesis, interpretasi, menjelaskan dan menyimpulkan langkah berikutnya.
CATATAN :
Karena keterbatasan kemampuan penulis, ada beberapa tabel dan grafik tidak dapat ditampilkan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan. Semoga bermanfaat bagi pengunjung blog ini.