Friday, 18 June 2010

MODEL PEMBELAJARAN TIPE JIGSAW II

Model CL tipe Jigsaw II  ini dikenal juga Kelompok Ahli. Model ini dapat diterapkan pada materi pembelajaran yang tak berstruktur (tidak saling berhubungan antar sub-sub materi).
Prosedur pelaksanaan Jigsaw mirip dengan STAD, cara menentukan skor individu dalam kelompok (nilai perkembangan) dan kriteria penghargaan kelompok sama dengan tipe STAD.
Menurut Slavin (1998), tipe Jigsaw terdiri 5 fase. Pembagian kelompok berdasarkan kriteria prestasi individu (dari ulangan sebelumnya atau  pretest), gender, etnik dan ras. Tiap kelompok beranggotakan 2 – 4 orang. Kelompok Expert , jumlahnya disesuaikan dengan pokok bahasan materi yang dipelajari. Contoh, suatu topik/ pokok materi terdiri 4 sub pokok materi (pokok bahasan), maka kelompok expert jumlahnya juga 4.
Masing-masing kelompok expert beranggotakan wakil dari sejumlah kelompok belajar siswa.

Contoh : Suatu kelas terdiri dari 40 siswa, maka dapat dibentuk menjadi 10 kelompok (Kelompok 1, 2, 3 ……10). Tiap kelompok terdiri 4 orang siswa. Setelah kelompok belajar terbentuk, guru membagikan LKS untuk dipela-jari bersama. Pada kegiatan ini, oleh Slavin disebut Fase 1 (Reading). Selanjutnya, anggota masing-masing kelompok tersebut berunding  mem-bagi tugas untuk masuk ke kelompok expert.  Misalnya, pokok materi ter-diri dari 4 sub pokok materi/ bahasan, maka dapat dibentuk sejumlah 4 kelompok expert (Expert A, B, C, D). Kemudian kelompok belajar tersebut berunding untuk menentukan satu orang siswa sebagai wakil dari kelom-pok belajar bergabung ke tiap kelompok expert A, B, C dan D, sesuai hasil perundingan. Jadi dalam kelompok expert masing-masing beranggotakan 10 orang siswa. Fase 2 (Expert Group Discussions) : Di dalam kelompok expert, siswa berdiskusi membahas dan memecahkan masalah atau soal yang terdapat dalam LKS. Setelah diskusi kelompok expert selesai, semua anggota kelompok expert kembali ke kelompok belajar semula. Fase 3 (Team reports) : Siswa yang ditunjuk sebagai wakil kelompok belajar di kelompok expert menjelaskan kepada teman-temannya se kelompok. Demikian juga teman dari expert yang lain menjelaskan kepada teman- teman sekelompok tentang apa yang dibahas dan dikerjakan selama di dalam kelompok expert. Pada saat diskusi expert inilah, guru dapat mem-berikan bimbingan, validasi materi dan jawaban siswa dari masing-masing expert. Fase berikutnya Fase 4 (Assessment) : Guru mengadakan kuis yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual. Hasilnya berupa nilai individu anggota kelompok. Fase 5 (Team recognition) :  Guru bersama siswa menghitung perubahan nilai awal (base score) siswa dengan nilai hasil kuis secara individual menggunakan Tabel 1 (lihat Tabel Nilai Peng-hargaan Kelompok STAD dan Jigsaw). Kemudian nilai semua siswa ang-gota masing-masing kelompok dijumlahkan dan dirata-rata, maka akan diperoleh nilai antara 5 – 30 sebagai nilai kelompok. Untuk menentukan predikat kelompok, gunakan Tabel 2  Penghargaan Kelompok, caranya sama seperti penghargaan kelompok pada model tipe STAD.
Persiapan Guru :
1.    Menyiapkan bacaan (LKS)
2.    Kalau kegiatan expert berupa praktik atau demonstrasi, maka guru menyiapkan alat/ bahan
3.    Menyiapkan instrumen untuk kuis
4.    Menyiapkan tabel nilai pengamatan psikomotor dan sikap.
5.    Menyiapkan tabel rekapitulasi nilai individu dikonversi ke nilai penghar-gaan kelompok (lihat lampiran)
6.    Menyiapkan tabel rekapitulasi rerata nilai kelompok
7.    Menyediakan tanda penghargaan/ sertifikat untuk kelompok

Tabel 1 :  Nilai Penghargaan Kelompok (Penghitungan skor Perkembangan)
NO
SKOR TES
NILAI PERKEMBANGAN
1.
Lebih dari 20 poin di atas skor awal
30
2
Sama atau hingga 10 poin di atas skor awal
20
3
Sepuluh hingga satu poin di bawah skor awal
10
4
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
5

Tabel  2 : Perolehan Skor dan Predikat Tim Tipe STAD dan Jigsaw
NO
PREDIKAT TIM
RATA-RATA SKOR
1
Super Team
25 - 30
2
Great Team
20 - 24
3
Good team
15 - 19


    SELAMAT MENCOBA, SEMOGA BERHASIL !


    SUMBER :  
    MODUL SOSIALISASI MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DI LPMP JAWA TENGAH, TANGGAL 20 - 23 DESEMBER 2004


    Friday, 28 May 2010

    ALMARHUM MENDAPATA NILAI BAGUS

    Pagi itu di ruang guru nampak kesibukan para wali kelas memasukkan nilai raport. Maklum besok raport akan dibagikan. Tampak beberapa wali kelas begitu gelisah, karena ada satu nilai pelajaran dari seorang guru bernama Pak Dul yang belum dimasukkan. Seperti biasa, Pak Dul, guru yang satu ini paling senang mengakhirkan menyetor nilai kepada wali kelas. Mungkin ia terinspirasi dengan mengakhirkan waktu sahur saat puasa, agar lebih afdol. Ya, Pak Dul saat itu sedang menjadi orang yang paling ditunggu oleh wali kelas yang membutuhkan setoran nilainya.
    Pak Dul adalah guru yang istimewa.Rekan-rekannya sering menyebut ia sebagai bisnisman yang nyambi guru. Bisnisnya bermacam-macam dari bisnis jual mobil sampai dengan jual beli kambing. Karena kesibukan bisnisnya tersebut keberadaan Pak Dul di sekolah bak kilat di waktu hujan , sesekali terlihat sesekali hilang. Pak Dul akan menghilang begitu ia selesai mengajar. sekedar menggugurkan kewajiban. Maka tidak heran jika pada saat pengolahan nilai raport ia menjadi “the most wanted “, orang yang paling dicari oleh wali kelas yang menunggu setoran nilai darinya.
    Jarum jam pendek sudah menunjuk pada angka sepuluh. Batang hidung pak Dul belum kelihatan. Para wali kelas mulai gelisah. Tampak beberapa dari mereka menggerutu mengeluarkan kata-kata umpatan yang ditujukan ke Pak Dul, sehingga ruang guru agak sedikit gaduh. Namun suasana tersebut tidak berlangsung lama karena Pak Dul segera muncul. Dengan masih mengepulkan sisa asap rokok yang barusan dimatikan, Pak Dul mengucapkan salam. Para guru membalas salam dengan suara lirih menahan kedongkolan,apalagi melihat wajah Pak Dul tampak tenang tanpa merasa berdosa.
    Belum sempat Pak Dul menempelkan pantatnya di kursi, rekan-rekan sudah ribut menagih nilai darinya. Nampaknya Pak Dul sudah berpengalaman menghadapi situasi sepei ini. Bukan daftar nilai yang ia keluarkan terlebih dahulu tetapi sebuah bungkusan plastik berisi kue serabi yang masih hangat, yang dibeli saat dalam perjalanan, ia serahkan kepada seorang guru wanita untuk dibagikan. Melihat tumpukan kue serabi yang masih hangat tersebut tanpa menunggu dibagi, para guru segera menyerbu serabi tersebut tanpa sisa . Pak Dul pun tersenyum, ia bisa duduk manis menyandarkan punggung di kursi dan meluruskan kaki sejenak. Sementara rekan-rekan guru larut dalam keheningan menikmati manis gurihnya kue serabi .Wali kelas yang sebelumnya ngotot minta setoran nilai, nampak teralihkan perhatiannya dengan kegiatan mulut ,mengunyah kue serabi.
    Kurang dari lima belas menit Pak Dul menyelesaikan tugasnya menuliskan nilai di lembar daftar nilai yang harus disetorkan ke wali kelas. Wali kelas yang tadinya agak dongkol, menerima daftar nilai dari Pak Dul disertai ucapan terima kasih untuk kue serabinya. Biasanya pak Dul menyetor nilai dengan cara mendiktekan nilai kepada wali kelas secara lesan. Dengan membawa buku daftar nilai yang sebenarnya masih kosong, wali kelas diminta menyebut nama siswa dan Pak Dul mendiktekan nilainya. Ya, kali ini ada kemajuan dari Pak Dul.
    Setelah selesai menyelesaikan hajatnya Pak Dul nampak akan bergegas meninggalkan ruang guru. Namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba Bu Dar menahanya. “ Maaf Pak, benar ini siswa yang bernama Marhum, dapat nilai delapan ? “, tanya Bu Dar dengan wajah keheran-heranan. “ Benar Bu, Marhum pada saat pelajaran saya ,anaknya aktif,sering maju ke papan tulis, bahkan nilai ulangan hariannya selalu bagus “, jawab Pak Dul.” Tapi Pak, Marhum ini siswa yang sudah meninggal awal semester lalu karena kecelakaan “, Bu Dar mencoba memperjelas alasannya bertanya. Tampak wajah Pak Dul sedikit merah menahan malu, karena nilai yang diberikan sebenarnya nilai karangan . “ Lalu siswa yang aktif tersebut siapa ya ?”, tanya Pak Dul entah pada siapa, masih mencoba ‘ngeles’ . “ Mungkin penampakannya Pak !” ,salah seorang guru melontarkan celetukannya dan pecahlah tawa para guru. Pak Dul pun tersenyum kecut sambil mebuka-buka buku daftar nilainya yang sebenarnya masih kosong.
    Belum juga reda tawa para guru yang ditimpali dengan berbagai celetukan, tiba-tiba HP pak Dul berbunyi. Tampak terjadi percakapan Pak Dul dengan rekan bisnisnya. “ Maaf saya ditunggu rekan bisnis saya “, ucap pak Dul kepada rekan-rekannya.Tampaknya ia ingin segera bergegas pergi. Sebelum pergi seperti biasa ia berpesan kepada wali kelas jika nilai yang ia berikan kepada seorang siswa dirasa masih kurang untuk ditambah sendiri, “pokoknya fleksibel lah ! “,ujarnya. Dan selanjutnya Pak Dul segera meninggalkan sekolah dengan mobil barunya. Wes... hewes... Pak Dul Langsung Bablas.

    Sunday, 23 May 2010

    MITOS-MITOS SEPUTAR PROFESI GURU

    Saat ini profesi  guru mempunyai daya tarik tersendiri, setelah pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru dengan memberikan tunjangan profesi. Langkah yang diambil pemerintah nampaknya menjadikan guru sebagai profesi yang diperhitungkan dibandingkan dengan profesi lainnya. Banyak generasi muda,  yang sebelumnya enggan untuk menjadi guru karena dianggap sebagai profesi yang kurang bergengsi ,sekarang mulai berbondong-bondong memasuki Lembaga kependidikan calon guru. Bahkan para sarjana yang bukan dari lembaga tenaga kependidikan banyak yang putar haluan memilih menjadi seorang guru.
                    Profesi guru sendiri di indonesia sebelumnya dianggap sebagai profesi kelas dua, hal ini terkait dengan minimnya imbalan yang diperoleh guru dibandingkan dengan profesi lainnya semisal, dokter. Akibat dari hal tersebut profesi guru kurang diminati oleh putra-putra terbaik dari masyarakat. Mereka lebih tertarik dengan profesi-profesi yang lebih menanjikan masa depan dengan penghasilan finansial yang memadai.
                    Berkaitan dengan profesi guru berkembang di masyarakat mitos-mitos yang dapat menghambat profesionalitas guru. Mitos-mitos tersebut diharapkan dapat  segera didobrak agar tidak membelenggu perkembangan profesi guru. Demitologisasi perlu dilakukan agar guru dapat ditempatkan sebagai profesi yang terhormat dan meningkatnya apresiasi orang tua , masyarakat  terhadap profesi guru.
                    Adapun mitos-mitos yang masih berkembang di masyarakat berkaitan dengan profesi guru diantaranya adalah :
    a.    Guru adalah Profesi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
    Ungkapan guru pahlawan tanpa tanda jasa memang terasa manis. Ungkapan tersebut sebenarnya terkandung makna penempatan guru sebagai profesi mulia. Akibat ungkapan tersebut ada kesan bahwa guru tidak terlalu membutuhkan imbalan dalam menjalankan profesinya. Jika ada guru yang menuntut perbaikan   nasib berkaitan dengan profesinya , dianggap sebagai bukan  guru sejati. Guru ditabukan melakuakan tuntutan-tuntutan perbaikan nasib dalam bentuk materi.
    Saat ini sudah selayaknya guru mempunyai posisi tawar untuk selalu memperjuangkan kehormatan dan perolehan imbalan yang layak bagi penghidupan . Profesi guru sebagaimana profesi yang lainnya diharapkan mampu menyejahterakan. Guru yang sejahtera akan lebih konsern dalam membina peserta didik menjadi manusia-manusia yang unggul.
    b.        Setiap Orang bisa menjadi guru
    Ungkapann bahwa setiap orang bisa menjadi guru menjadikan guru sebagai profesi terbuka, siapa saja dapat dan boleh menjadi guru. Hal ini berakibat pada orang-orang yang tidak mempunyai dasar-dasar kependidikan akan mudah menjadi guru. Dampak dari pemahaman ini adalah peserta didik akan mendapat layanan pendidikan dari orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi kependidikan.Sudah dapat dibayangakan kualitas dari output yang dihasilkan dari proses pendidikan semacam ini.  
    Seseorang menjadi guru hendaknya merupakan pilihan bukan keterpaksaan atau pelarian. Oleh karena itu seseorang menjadi guru harus mempunyai dasar-dasar ilmu kependidikan yang memadai dan kompetensi yang sesuai. Dengan demikian profesi guru bukanlah profesi yang terbuka, dimana untuk menjadi guru hendaknya memnuhi kriteria-kriteria profesional. Jika semua guru mampu memenuhi kriteria keprofesionalan maka profesi guru akan lebih dihargai dan dihormati.
    c.         Profesi Guru Bukanlah Suatu Profesi Pekerja
    Seringkali kita di kalangan guru ,masih tabu  menyebut guru sebagai profesi pekerja. Sebutan guru sebagai suatu profesi pekerja seolah menyetarakan guru dengan pekerja-pekerja kasar pabrik. Sehingga ada perasaan tabu jika guru akan melakukan demonstrasi atau protes terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan yang merugikan peserta didik maupun guru.
    Guru disamping seorang pendidik juga pekerja yang mempunyai hak dan kewajiban. Sudah sewajarnya jika guru mealakukan tuntutan pemenuhan hak-hak yang harus diperoleh sebagai seorang pekerja sebagaimana pekerja-pekerja lain di dalam masyarakat modern. Bukanlah hal yang tabu guru yang ideal dan profesional memperjuangkan peningkatan kualitas hidupnya guna lebih mendorong pengabdiannya kepada peserta didik dan masyarakat.
    d.        Guru adalah Profesi yang Cocok untuk Perempuan
    Saat ini ada kecenderungan semakin banyaknya perempuan yang memasuki profesi guru.  Banyaknya perempuan yang memilih profesi guru sempat dikhawatirkan mempengaruhi pola didik terhadap siswa . Dikahawatirkan akan tumbuhnya siakp keperempuanan terhadap peserta didik. Kekhawatiran ini tentunya tidak mempunya dasar yang kuat, bisa jadi merupakan bentuk bias gender yang tidak pada tempatnya.Profesi guru yang erat dengan kegiatan mendidik sering dikaitkan dengan tugas ibu untuk mendidik anak. Akibat dari pemahaman ini muncul image bahwa profesi guru hanya cocok untuk perempuan.
     Semakin banyaknya perempuan yang memasuki profesi guru juga dikaitkan dengan pendapat bahwa perempuan puas dengan imbalan gaji yang kecil. Tentunya ini sangat merugikan bagi ptofesi guru khususnya guru perempuan. Tindakan diskriminasi terhadap guru perempuan sering terjadi akibat sikap “nrimo” , tidak suka protes terhadap ketidak adilan yang dialaminya. Tentunya sudah selayaknya perempuan yang memasuki profesi guru mendapatkan hak dan perlindungan yang sama dengan apa yang diperoleh kaum pria.
    e.        Guru Pantang Berpolitik
    Pandangan bahwa guru sebagai profesi yang selalu menjunjung etika mengakibatkan muncul mitos bahwa guru pantang berpolitik. Ungkapan politik itu kotor dan berorientasi pada kekuasaan  memunculkan sikap ketertutupan guru untuk berpolitik.
    Pada saat ini guru perlu menggalang kekuasaan agar kepentingan peserta didik dapat dilindungi dan dikembangkan. Melalui organisasi-organisasi profesi guru diharapkan mampu membentuk kekuatan yang mampu menjadi kelompok-penekan (pressure group) yang dapat melobi parlemen serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya guna memperjuangkan dunia pendidikan yang dapat membangun masyarakat indonesia yang lebih demokratis.
    Mitos-mitos di atas nampaknya perlu dikikis  guna selalu meningkatkan perkembangan profesi guru yang lebih bermartabat. Peningkatan perkembangan profesi guru hendaknya dilihat sebagai bentuk usaha pembenahan pendidikan nasional yang lebih berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan nasional berdampak pada peningkatan kulitas sumber daya manusia indonesia. Manusian –manusia indonesia yang berkualitas akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat.

    Sumber Bacaan : MEMBENAHI PENDIDIKAN NASIONAL, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed, 2002

    Tuesday, 11 May 2010

    CARA-CARA UNTUK MEMATAHKAN SEMANGAT SISWA

    Anak-anak memiliki tangki emosional yang harus penuh.Tidak boleh kurang isinya , apalagi kosong. Cintalah yang mampu memenuhi tangki tersebut. ( Gary Chapman )
                    Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak jarang tanpa sengaja mematahkan semangat siswa. Tindakan yang dilakukan guru mungkin mempunyai maksud baik, namun tanpa disadari justru membuat siswa patah semangat dan frustasi. Adapun tindakan tindakan yang  dapat mematahkan semangat siswa diantaranya :
    a.    Mentapkan standar yang sangat tinggi dan tidak realistis yang menuntut kesempurnaan.
    Guru tentunya berharap siswanya dapat berprestasi secara maksimal. Guna mencapai harapan tersebut guru menetapkan target atau standar capaian minimal yang  harus diperoleh siswa. Namun tanpa disadari  target yang ditetapkan diatas kemampuan rata-rata siswa. Hal ini berakibat pada sebagian siswa tidak dapat mencapai target yang diharapakan.Penetapan standar penilaian yang menuntut kesempuranaan sering juga dilakuakan oleh guru. Penetapan ini biasanya bersandar pemikiran yang bersifat subyektif. Kegagalan siswa dalam memenuhi target atau standar yang telah ditetapkan jika terjadi berulang-ulang akan menimbulkan patah semangat dan frustasi.
    b.    Memotifasi  dengan memfokuskan pada kesalahan-kesaahan yang dilakukan siswa.
    Salah satu peran guru yang tak kalah pentingnya adalah sebagai motivator. Kegiatan motivasi siswa merupakn kegiatan positif yang biasa dilakukan guru pada awal pelajaran atau pada saat pembinaan. Namun sayang beberapa guru masih menggunakan kesalahan-kesalahan siswa sebagai fokus pemberian motivasi. Hal ini tentunya sering memposisikan siswa bak pesakitan yang diharapakn melakukan pertobatan. Siswa akan merasa rendah diri, kurang percaya diri karena selalu diposisikan sebagai subyek pelaku kesalahan. Jika ini dilakukan sebagian besar guru maka siswa justru cenderung mengulang kesalahan yang telah dilakukan. Siswa akan merasa orang yang memang selalu berbuat kesalahan.

    c.      Membuat interpertasi yang pesimistis
    Kejujuran merupakan sesuatu hal yang diutamakan dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian perlu berhati-hati dalam mengungkap kondisi atau potensi siswa yang dihadapi. Guru yang mengungkap rendahnya hasil belajar atau potensi siswa ada kemudian dilanjutkan dengan ungkapan pesimis untuk prestasi siswa selanjutnya dapat berakibat kurang baik. Tentunya maksud guru tersebut untuk memberi gambaran secara jujur agar siswa lebih berusaha keras dalam mencapai prestasi belajar. Namun demikian ungkapan-ungkapan pesimis yang dilontarkan oleh guru akan menimbulkan perasaan tak berdaya pada siswa. Siswa akan merasa tidak mempunyai harapan untuk lebih meningkatkan diri. Aura kata-kata pesimis akan menyebar di dalam ruang kelas menular kepada para siswa.Jika hal tersebut terjadi harapan agar para siswa lebih meningkatkan usaha justru yang terjadim sebaliknya.



    d.    Membandingkan siswa satu dengan lainnya.
    Dengan maksud untuk memotivasi siswa, guru tidak jarang menggunakan prestasi siswa lain yang lebih unggul sebagai pembanding. Guru berharap siswa yang prestasinya masih rendah akan berusaha mencapai nilai siswa yang dijadikan pembanding. Cara seperti ini justru berakibat kepada siswa yang prestasinya masih rendah merasa kurang dihargai sebagai pribadi yang unik. Siswa merasa diperlakukan tidak adil. Keinginan siswa menjadi diri sendiri serasa diabaikan. Akibat dari ini  siswa cenderung berperilaku kebalikan dari harapan guru karena tidak ingin dibanding-bandingkan dengan orang lain. Untuk itu penghargaan kepada tiap-tiap siswa secara individu sangat penting . Lihat siswa sebagai manusia dengan potensi yang berbeda-beda dengan kelebihan dan kekurangan masing-maisng.

    e.         Mendominasi dengan membantu siswa secara berlebihan.
    Naluri seorang guru adalah selalu ingin membantu siswanya. Namun demikian bantuan yang secara berlebih justru akan merugikan siswa. Sepintas siswa merasa senang karena segala sesuatu mendapat bantuan guru, tetapi tanpa disadari bantuan guru tersebut justru mematikan kreatifitas siswa. Dengan bantuan guru yang berlebihan siswa akan selalu dalam kondisi nyaman. Akibat dari perilaku tersebut siswa akan mengalami kesulitan ketika ia harus memecahkan masalah yang harus ia hadapi sendiri. Ketergantungan terhadap bantuan guru mengakibatkan siswa tidak mandiri. Jika semakin banyak permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikkan tanpa bantuan guru ,mengakibatkan siswa menjadi patah semangat. Untuk itu guru dalam memberi bantuan kepada siswa seperlunya saja, biarkan siswa secara kratif memecahkan masalah secara mandiri.
              Sebagai  seorang pendidik niat baik membantu siswa saja tampaknya tidak cukup. Niat baik perlu  ditunjang dengan cara-cara yang baik dalam membantu siswa. Dengan  dilandasi kecintaan kita kepad siswa, niscaya siswa akan merasa nyaman sebagai dirinya dan kepada kita sebagai seorang guru.


    Sumber bacaan : Kiat Nyaman Mengajar di Dalan Kelas , Ronald L partin,2009


    Wednesday, 21 April 2010

    MASIH PERLUKAH HUKUMAN BADANIAH

    Jika Kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi , kamu akan membikin orang lain sakit.

    ( Lorraine Monroe )

    Sebagai seorang pendidik tentunya sudah terbiasa menamui para siswa yang melanggar tata tertib, berperilaku menyimpang, mengganggu kegiatan pembelajaran dan perilaku-perilaku sejenis . Tentunya terhadap siswa berperilaku demikian sebagai seorang pendidik tidak akan tinggal diam. Perlu adanya punishment atau hukuman bagi siswa yang berperilaku negatif. Sering dalam memberikan hukuman guru terprovokasi untuk menggunakan hukuman badaniah guna menghentikan perilaku negatif siswa. Tidak jarang dalam menggunakan hukuman badaniah guru cenderung berlebihan.Dalam kasus-kasus tertentu bahkan hukuman badaniah yang dilakukan oleh guru berakhir di meja hijau.

    Saat ini hukuman badaniah yang berlebihan dapat dikategorikan sebagai bentuk malpraktik yang dilakukan guru.Guru dituntut menghindari pemberian hukuman badaniah untuk mengatasi perilaku negatif siswa. Guru diharapkan menggunakan cara-cara yang bersifat mendidik dalam memberikan hukuman kepada siswa. Pada kenyataannya sulit dihindari untuk tidak menggunakan hukuman badaniah kepada siswa yang cenderung berperilaku negatif secara berulang-ulang dan dapat membahayakan bagi siswa lainnya. Posisi dilematis semacam inilah yang tampaknya perlu dicermati agara kasus-kasus terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan guru kepada siswa dalam konteks pemberian hukuman terulang lagi.

    Penggunaan hukuman badaniah saat ini memang perlu dikaji ulang. Meskipun ada yang masih melihat hukuman badaniah sebagai cara efektif menghentikan perilaku negatif siswa dan penggunaannya sebagai hukuman yang terakhir. Cukup menarik apa yang diungkap oleh Roland L. Partin dalam bukunya yang berjudl "Kiat nyaman Mengajar di Kelas " berkaitan dengan hukuman badaniah kepada siswa. Diungkapkan beberapa fakta tentang praktik-praktik hukuman badanih diantaranaya sebgai berikut :

    • Hukuman badaniah lebih sering terjadi di tingkat dasar dan menengah .
    • Anak laki-laki lebih sering dipukul daripada anak perempuan.
    • Anak-anak minoritas menerima hukuman badaniah empat atau lima kali lebih banyak.
    • Guru yang sering menggunakan hukuman badaniah cenderung bersifat diktaktor, dogmatis,relatif tidak berpengalaman, impulsif dan penggugup dibanding rekan-rekannya.
    • Guru yang menggunakan hukuman badaniah kecenderungan mempunyai masa lalu sering diberi hukuman pada masa kecilnya.

    Disamping fakta-fakta di atas penggunaan hukuman badaniah mempunyai dampak negatif.Beberapa dampak negatif tersebut diantaranya :

    • Hukuman badaniah tidak serta merta menghapus perilaku yang tidak diinginkan. Ia hanya bersifat menekan.
    • Seringnya anak mengalami hukuman fisik mempunyai kecenderungan melakukan kekerasan fisik dalam kehidupan sesudahnya.
    • Hukuman badaniah memunculkan ketidakadilan tentang siapa yang akan dihukuman. Hukuman badaniah cenderung mempertimbangkan suku,ras, gender dan tingkat sosio-ekonomi siswa yang akan mendapat hukuman.
    • Hukuman badaniah menuntun kepada reaksi stres, rasa takut ke sekolah, mimpi buruk, kehilangan selera makan, dan perasaan gugup.
    • Sekolah yang sangat ,mengandalkan hukuman badaniah cenderung mengalami tingkat absensi, pembolosan dan tidak melanjutkan sekolah yang tinggi.
    • Hukuman badaniah dapat meracuni hubungan guru-sisa dan rasa ketidakpercayaan. Rasa takut siswa tida sama dengan rasa segan.
    • Pelarangan hukuman badaniah tidak mengakibatkan peningkatan siswa yang nakal bahkan tingkat vandalisme berkurang.
    • Meningkatnya resiko tuntutan atau tuduhan malpraktik oleh guru karena penerapan hukuman badaniah.

    Meskipun hukuman badaniah ditengarai lebih banyak dampak negatinfya daripada positifnya, tidak semua negara melarang penggunaan hukuman badaniah. Adapun negara-negara yang melarang penggunaan hukuman badaniah diantaranya, negara-negar Eropa, Jepang Israel, Rusia, China, Turki, Irkandia , Puerto Rico.

    Di Amerika sendiri penggunaan hukuman badaniah masih tolerir meskipun mendapat tentangan dari berabgai lembaga swadaya masyarakat. Di beberapa negara bagian Amerika penggunaan hukuman badan dibatasi dengan ketat. Hukuman badaniah hanya dapat dilakuakan setelah mendapat izin orang tua, harus ada saksi , dilakukan tidak di depan siswa lainnya.

    Di indonesia sendiri penggunaan hukuman badaniah belum ada pelarangan secara eksplisit. Namun demikian tampaknya dengan adanya wacana tentang hal-hal yang dapat dkategorikan sebagai malpraktik guru,diterbitkannya kode etik guru, kemudian Undang-Undang Perlindungan anak, tampaknya penggunaan hukuman badaniah sangat tidak dianjurkan.

    Selanjutnya sebagi seorang pendidik guru diharapkan lebih kreatif menggali cara-cara yang lebih mendidik dalam menerap hukuman kepada siswa. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah dalam memberikan hukuman hendaknya dilandasi dengan rasa kasih sayang.Penerapan hukuman dilandasi dengan tujuan untuk mencegah siswa terjebak dalam perilaku negatif yang berkelanjutan sehingga berdampak kurang baik bagi masa depannya.

    Kunci utama dari pemberian hukuman kepada siswa adalah kasih sayang dan ketulusan. Dengan kasih sayang dan ketulusan siswa akan dapat menerima hukuman sebagai bentuk konskuensi dari perbuatan yang dia lakukan. Selanjutnya dengan bimbingan yang tulus siswa kan menyadari kekeliuran dan dengn kesadaran kan memperbaiki perilakunya.Pemberian hukuman yang dilandasi rasa emosional atau pelampiasan kekesalan justru berpotensi menambah masalah.

    Patut direnungkan sebuah ungkapan berikut :

    "Seorang guru sebaiknya hanya dipersenjatai dengan pengetahuan. Hukuman badaniah adalah senjata yang kejam dan sudah kuno " ( Tajuk Renacana USA Today, 22 Agustus 1990 )


     

    Sumber bacaan : Kiat Nyaman Mengajar di Dalan Kelas , Ronald L partin,2009


     

    Friday, 12 March 2010

    GURU BUKAN SUPERMAN

    Guru mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukkan karakter bangsa.Guru sebagai ujung tombak pendidikan mempunyai kesempatan untuk mengasah dan menumbuhkan karakter siswa. Dengan pengaruhnya guru diharapkan mampu membentuk karakter positif siswa. Siswa sebagai tunas-tunas bangsa yang berkarakter positif inilah yang diharapkan mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat.
    Pendidikan adalah sarana yang dipercaya dan terbukti mampu membawa suatu bangsa pada kemajuan di segala bidang.Sumber alam yang melimpah,jumlah penduduk dan lamanya usia suatu bangsa tidak menjamin akan membawa bangsa tersebut pada kemajuan.Sejarah membuktikan bangsa yang mempunyai kemajuan pendidikan meskipun dengan sumber daya alam yang terbatas dan usia bangsa yang relatif belum lama mampu membawa kemajuan di berbagai bidang.Dan peran gurulah yang diharapkan mampu membawa pendidikan yang lebih berkualitas.
    Begitu strategisnya peran guru dalam membawa suatu bangsa dalam mencapai kemajuan saat ini profesi guru mendapat perhatian khsusus dari pemerintah. Salah satu bentuk perhatian tersebut adalah peningkatan kesejahteraan dengan pemberian tunjangan profesi.Hal tersebut tentunya mempunyai konsekuensi peningkatan kinerja dan profesionalisme guru.
    Tidak hanya pemerintah, masyarakatpun juga menaruh harapan terhadap besar kepada guru terhadap peningkatan kualitas pendidikan putra-putrinya. Bahkan pengaharapan tersebut kadang terlalu berlebih sehingga semua terkait dengan pendidikan siswa dipasrahkan terhadap guru.
    Akibat dari ekspektasi yang berlebih terhadap guru, ketika anak didik melakukan kenakalan ,kejahatan  atau perilaku negatif lainhya guru selalu menjadi sasaran sumber kesalahan.Muncul berbagai macam pendapat negatif seperti, tentang kesalahan pola pengajaran guru, sistem mendidik guru yang salah, guru kurang profesional dan pendapat-pendapat negatif lainnya. Dalam hal ini guru sering dijadikan kambing hitam dan selalu terseret dalam lembah ketidakadilan. Masyarakat cenderung menganggap guru sebagai superman, profesi yang bisa segala-galanya termasuk mampu mengatasi segala problematika siswa yang begitu kompleks.
    Sindrom Superman juga sering menjakiti kalangan guru.Tidak jarang guru merasa dirinya mampu menanggulangi semua problematika siswa. Di kelas guru sering merasa sebagai pemegang otoritas kebenaran, sehingga sering mengabaikan  kebenaran yang diajukan siswa. Ada guru yang merasa bersalah yang berkepanjangan saat gagal menghantarkan siswanya mencapai prsestasi yang diharapkan dimana rasa bersalah yang berkepanjangan ini mengakibatkan terganggunya kinerja sang guru. Sindrom Superman       juga berdampak negatif terhadap  siswa, karena guru merasa paling segalanya, muncul sikap arogan sang guru, yang berpotensi terjadinya malpraktik oleh guru.
    Untuk menghindari kesan guru sebagai superman atau sindrom superman oleh guru perlu mendudukan profesi guru secara proporsional. Berkaitan dengan kenakalan atau kejahatan yang dilakukan siswa, perlu dilihat juga pengaruh yang ada dalam diri siswa, lingkungan dan keluarganya. Terlalu naif jika hanya aspek guru saja yang dilihat jika terjadi kenakalan siswa. Dalam hal ini guru hanya unsur di luar siswa yang berusaha mempengaruh siswa sehingga muncul potensi positif siswa. Pengaruh positif yang diberikan guru belum tentu diterima siswa, karena siswa mempunyai hak untuk menetukan pilihan jalan hidup yang ditempuhnya. Bagi guru harus menyadari ada batas-batas kemampuan guru saat mendidik siswa, tidak semua masalah siswa bisa terpecahkan di sekolah bahkan mungkin perlu pihak-pihak lain yang lebih berkompeten saat menangani siswa bermasalah. Di samping itu perlu kesadaran bahwa guru juga manusia biasa yang memungkinkan untuk berbuat kesalahan, karena itu kebenaran bisa datang dari siapa saja bahkan dari anak didiknya.
    Alasan guru bukan superman atau guru adalah manusia biasa jangan dijadikan dalih untuk menghindar dari  tanggung jawab yang lebih besar berkaitan dengan kenakalan atau kejahatan yang dilakukan oleh siswa yang saat ini cukup marak. Para guru hendaknya lebih berani mengambil peran yang lebih besar dalam menangani kenakalan atau kejahatan yang dilakukan peserta didiknya.Guru harus selalu berusaha memberikan yang tebaik bagi anak didiknya. Kepuasaan seorang guru adalah ketika mampu menghantarkna anak didiknya menjadi manusia yang mandiri dan berguna bagi orang-orang yang disekitarnya.

    Thursday, 25 February 2010

    GURU UN DAN GURU NON UN

    Seiring dengan pelaksanaan Ujian Nasional, saat ini di sekolah muncul istilah guru UN dan guru Non UN. Istilah guru UN ditujukan kepada guru yang mengampu mata pelajaran yang diujikan Ujian Nasional, sedang guru non UN adalah sebutan untuk guru mata pelajaran yang tidak diujikan di Ujian Nasional.Untuk di SMP guru UN adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia , Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.
    Kesenjangan antara guru UN dan guru non UN akan semakin terlihat saat menjelang pelaksanaan UN. Guru UN akan sering memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan dari pelatihan tentang penyusunan soal sampai dengan bedah SKL.Seorang guru UN dapat mengikuti pelatihan lebih dari 3 kali dalam satu bulan. Pelatihan diselenggarakan dari tingkat kabupaten sampai dengan tingkat provinsi. Frekuensi pelatihan yang relatif padat yang diikuti oleh guru UN, dapat menimbulkan kecemburuan dari guru non UN, Apalagi di era sertifikasi guru, keikutsertaan pelatihan merupakan sesuatu kegiatan yang diharapkan guru karena disamping dapat meningkatkan kompetensi juga sertifikat yang diperoleh sangat bermanfaat pada saat pengajuan portofolio dalam rangka sertifikasi guru.
    Untuk tingkat sekolah sendiri, guru UN juga mendapat perhatian khusus di sekolah. Adanya jam tambahan pelajaran sekolah menyediakan anggaran khusus. Anggaran tersebut disamping untuk sarana belajar siswa juga untuk honor lembur dan konsumsi guru UN.Perlakuan semacam ini tidak jarang di beberapa sekolah memicu kecemburuan antar guru.
    Bagi guru UN sendiri sebenarnya saat menjelang UN adalah saat beban mental semakin bertambah. Pada saat menjelang UN guru UN dituntut untuk menyediakan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih.Adanya honor lembur dan konsumsi yang disediakan sebenarnya tidak sebanding dengan beban mental yang ditanggung guna menghantar siswa lulus Ujian.
    Banyaknya siswa yang tidak lulus Ujian merupakan pukulan berat bagi guru UN. Komentar-komentar yang memojokkan guru UN menambah beban yang disandangnya.Di sinilah mental seorang guru UN sering diuji. Bahkan tidak jarang guru mapel yang di UN kan enggan untuk mengajar kelas 9 untuk SMP atau guru kelas 12 untuk SMA.
    Sudah saatnya istilah guru UN dan guru non UN dihilangkan. UN hendaknya menjadi tanggung jawab semua warga sekolah tidak terkecuali. Lingkungan sekolah yang kondusif yang terbebas adanya saling kecemburuan dan saling menyalahkan akan menumbuhkan energi positif guna menghantarkan siswa lulus ujian dengan prestasi yang optimal.