Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Wednesday, 13 June 2012

SAYA MANTAN “BUNG KARNO”


Sukarno dan Fatmawati
Hampir saja saya lupa bahwa tokoh idola saya berulang tahun di bulan ini. Untung saja saat saya mebolak-balik koran bekas  di perpusatakaan kabupaten saya dapat secuil berita tentang peringatan ulang tahun idola saya tanggal 6 Juni lalu. Ya, 111 tahun yang lalu adalah kelahiran Bung Karno, sang idola saya.


Bukan karena kebetulan atau ikut-ikutan saya mengidolakan Bung Karno. Saya mengidolakan Bung Karno saat kelas satu SMP.Pada waktu itu ada tugas dari guru pelajaran  Pendidikan Sejarah Perjuanagn Bangsa (PSPB). Bagi pembaca yang kelahiran akhir 60-an atau awal 70-an tentu  ingat pelajaran itu. Adapun tugas tersebut adalah untuk melakuakan kegiatan bermain peran fragmen peristiwa sejarah. Kebetulan tugas kelompok saya kebagian fragmen lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Yang lebih mengesankan adalah saya ditunjuk sebagai pemeran Bung Karno. Mungkin karena mirip. ( Huuu ... Ge eR)



Saya pun tidak menyia nyiakan kepercayaan yang diberikan. Dengan sepenuh hati saya perankan Bung Karno dengan gayanya yang khas, berapi-api. Ada satu adegan yang sangat saya ingat, yaitu adegan saat saya eh maksudnya Bung Karno dipaksa untuk segera memproklasmasikan kemerdekaan. Saat itu terjadi adu mulut antar Bung Karno dan golongan muda, sayuti melik, BM Diah dan kawan-kawan. Saya, maksudnya  Bung Karno ngotot tidak mau memproklamiskan kemerdekaan dengan tergesa-gesa. Sementara itu para tokoh muda juga ngeyel  memaksa Bung Karno untuk segera memproklasmsikan kemerdekaan. Akhirnya melalui perdebatan yang cukup panjang Bung Karno mau dibawa oleh tokoh muda ke rumah laskamana maeda, di Rengasdengklok, untuk membuat naskah proklamasi. Ada yang mengistilahkan peristiwa itu dengan penculikan Bung Karno. Oh ya bagi yang belum tahu, Laksaman Maeda itu orang jepang yang pro bangsa Indonesia.( Wee... sudah pada tahu !!!)  


Tampaknya tuhan memang sudah membuat jalan agar saya lebih mengenal tokoh yang akan saya perankan.Ndilalah (kebetulan)  kakak saya membeli sebuah buku yang menceritakan biografi masa muda sukarno, Langsung saja saya lahap habis buku tersebjut. Dan jleb !,  langsung  saya jatuh cinta dengan tokoh yang satu ini.


Ada satu bagian dari buku ini membuat saya sangat kagum terhadap Bung Karno. Dalam buku tersebut Bung Karno sudah berani melakukan pidato politik di usia yang sangat muda, 16 tahun. Di usia semuda itu beliau  sudah memikirkan  nasib bangsanya.Luar biasa!. Dan yang lebih saya kagumi beliau menguasai lebih dari dua bahasa dan memiliki wawasan yang sangat luas.


Bandingkan dengan anak muda sekarang. jauh!. Saat ini lebih banyak anak muda memikirkan  diiri sendiri ketimbang  memikirkan nasib bangsa. Nasionalisme di kalangan muda menjadi seusatu yang asing. Jangankan bicara nasionalisme  menyanyikan lagu Indonesai raya saja belum tentu hafal.


Sejak saya jatuh cinta dengan sang idola, timbul cita-cita bisa berjuang semuda mungkin bak Bung Karno. Dan salah satu profesi  yang menurut saya dapat menyumbang bagi kemajuan bangsa ini adalah politiikus  ala Bung Karno. Maka setiap berkunjung di perpustakaan provinsi saya mencari buku-buku tentang politik. Tetapi bukannya saya paham tentang politik malah tambah bingung, maklum anak SMP. Tapi Bung Karno kok bisa Ya?.  Dan akhirnya saya menyerah bahwa saya tidak bakat menajdi politikus. Kalau saja jalan hidup saya menjadi politikus mungkin saya sudah menjadi anggota dewan atau menteri. Nah lho ngawur kan ?.


Nafsu untuk membaca buku-buku tentang Bung Karno semakin menjadi-jadi. Hingga suatu saat saya temukan sebuah buku kecil di perpustakaan provinsi . Buku dengan ukuran tidak lebih  20 cmX15 cm bersampul kuning, judulnya saya lupa. Buku itu membuat saya terkaget-kaget. Bagaimana tidak?, buku tersebut menceritakan wanita-wanita yang pernah dekat dengan Bung Karno. Kenapa saya pada waktu kaget karena setahu saya wanita yang dekat dengan Bung Karno hanya Fatmawati. Yang lebih membuat saya shock adalah ada bagian dari buku tersebut yang menceritakan bagaiman Bung Karno mendekati Baby Huawei, seorang gadis SMP. Tentu saja sebagai seorang anak SMP saat itu,  saya tidak terima. Pokonya tidak terima.


Sempat terpikir bahwa buku tersebut dibuat memang untuk menjelek-jelekkan Bung Karno dan kemungkinana besar isinya tidak benar alias bohong.Karena ketidakyakinan isi buku tersebut membuat saya setiap berkunjung ke perpusatakaan ingin membacanya berulang ulang. Saya sendiri tidak berani meminjam buku itu. Masak anak SMP pinjam buku begituan. Menurut orang jawa saru alias tabu.


Anehnya setelah saya mebaca buku tersebut secara kebetulan saya mebaca buku-buku tentang Bung Karno terkait dengan tindakan-tindakannya yang cenderung orotiter dan Inkonstitusi. Dicanangkannya demokrasi terpimpin, kemudian pengangkatan dirinya sebagai presiden seumur hidup membuat kecintaan saya terhadap Sang Idola sedikit meredeup. Apalagi setelah tahu bahwa Bung Hatta yang juga idola saya mundur karena tidak cocok dengan model kepemimpina Bung Karno. Model kepemimpinan yang dapat mengahantarkan bangsa ke dalam keterpurukan.


Sejak saat itulah saya mulai membatasi kekaguman saya terhadap Bung Karno pada masa mudanya. Ya, saya mengidolakan Sukarno Muda. Sukarno muda adalah sososk yang dapat daijadikan idola bagi anak muda sekarang ini,  terkait dengan penanaman jiwa nasionalisme. Sosok yang cerdas, berani, pantang menyerah dengan kemapuan orasi di atas rata-rata.

Saat ini dibutuhkan Sukarno muda-Sukarno muda bagi bangkitnya bangsa ini dari berbagai problematika.Anak muda yang peduli terhadap bangsa,  haus terhadap pengetahuan, berani bertindak, dan tidak mudah putus asa. Sulit rasanya saat ini menemukan tokoh sekaliber Bung Karno .

Benar rasanya apa kata idola saya, “jasmerah”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Anak-anak muda sekarang perlu membuka kembali sejarah perjuanagan bangsa ini. Tidak hanya anak muda saja menurut saya para elit politik juga perlu menengok kembali sejarah berdirinya bangsa ini agar mereka tidak larut dalam kepentingan golongan dan pribadi  yang berimbas pada terpuruknya bangsa Indonesia. Sejali lagi “Jasmerah”.



No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.