Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Saturday, 9 October 2010

WELAS TANPA ALIS

Kasih Ibu tiada Batas
Pada suatu pagi seorang pria yang sedang berjalan-jalan di kebunnya melihat sebuah kepompong yang sedang bergerak-gerak di ujung ranting pohon. Sang pria menjadi penasaran menanti apa yang akan terjadi dengan kepompong tadi. Selang beberapa saat, kepompong  membuka sedikit, tampak calon kupu-kupu yang akan berusaha keluar dari kungkungan kulit kepompong.Tampaknya sang calon kupu-kupu bersusah payah keluar dari  kepompong. Melihat  calon kupu-kupu tampak kesusahan saat berusaha keluar dari kepompong, terbit rasa iba di hati pria tersebut. Kemudian ia masuk ke rumah untuk mengambil gunting. Dengan menggunakan gunting  ia membuka kulit kepompong agar calon kupu dapat keluar dengan mudah. Dengan bantuan sang pria kupu-kupu tersebut dengan mudah keluar dari kepompong. Tapi apa yang terjadi, kupu-kupu tersebut terjatuh di tanah dan kelihatan lemah untuk menggerakkan sayap-sayapnya yang masih lengket oleh lendir. Berulang-ulang si  kupu-kupu berusaha menggerak-gerakkan sayapnya, namun usahanya sia-sia belaka. Akhirnya si kupu-kupu itupun tinggal menunggu waktu untuk menjemput kematiannya. Sang pria pun menyesal karena niat baik yang ia lakukan kepada kupu-kupu tersebut justru membuat sang kupu-kupu  gagal menjadi kupu-kupu dewasa dan mati sia-sia.

                Bagi sebagian pembaca, cerita di atas bukanlah hal yang asing lagi. Cerita di atas mengandung pesan bagaimana rasa belas kasih dan bantuan yang kita berikan tidak memberi manfaat sebagaimana yang kita bayangkan. Perasaan belas kasih yang membawa celaka sebagaimana digambarkan pada cerita di atas dalam istilah jawa disebut dengan  Welas Tanpa Alis”.Perasaan welas tanpa alis sering menghinggapi kita. Seringkali dengan maksud memberi kasih sayang, pertolongan dan perlindungan, tetapi karena dilakukan dengan cara-cara yang salah justru pada akhirnya membawa celaka bagi orang yang  kita sayangi.
                Sebagai orang tua tentunya dituntut untuk mempunyai rasa kasih sayang kepada anak. Namun rasa kasih sayang yang berlebihan yang cenderung over protecting tentunya kurang baik bagi perkembangan pribadi anak.Pemenuhan kebutuhan anak yang berlebihan membuat anak menjadi manja dan cenderung menuntut semua keinginannya terpenuhi tanpa memperdulikan kondisi orang tua. Sikap orang yang serba khawatir terhadap aktifitas anak di luar rumah justru dapat membuat anak menjadi pribadi penakut kurang berani mengambil resiko.
                Pada dunia pendidikan rasa welas tanpa alis ditunjukkan oleh para guru pada saat-saat kegiatan UN. Karena perasaan kasihan jika siswanya tidak lulus ,memancing guru melakukan berbagai cara termasuk  yang tidak halal guna membantu siswa agar lulus ujin. Siswa yang lulus  atas bantuan yang tidak sepatutnya  mungkin senang karena telah berhasil lulus ujian, namun ketika ia harus berhadapan dengan kompetisi pada kehidupan nyata  di masyarakat dia akan mengalami kesulitan karena  tidak menyadari kelemahannya.
                Ada sebuah cerita tentang seorang pengusaha yang merasa gelisah dengan kehidupan putra-putrinya  di masa datang. Permasalahannya bukan tentang materi atau fasilitas yang kurang tetapi berkaitan ketahanan mental anaknya kelak ketika harus terjun dalam kehidupan nyata. Fasilitas yang serba ada , kemudahan dalam berbagai hal  dikhawatirkan membuat anaknya  lemah secara mental dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang akan dihadapi pada saat dia harus menjalankan usahanya.Perjalanan hidup yang mulus-mulus saja dikhawatirkan justru membuat mental sang anak menjadi lemah, tidak tahan banting. Bahkan ada keinginan sang pengusaha membawa anak-anaknya pada kondisi sang anak megalamai kegagalan. Dengan pengalaman mengalami kegagalan diharapkan sang anak mempunyai daya juang untuk bangkit dari kegagalan. Dengan mengalami kegagalan diharapkan si anak mau menghargai setiap hasil usaha yang telah diperoleh sekecil apapun.
                Memang tidak sulit menempatkan kasih sayang secara proposional. Apalagi saat kita sebagai orang tua dalam kondisi mampu memenuhi  kebutuhan anak di atas batas minimal. Keinginan untuk selalu memenuhi keinginan anak karena secara materi memang kita mampu  sering tak terbendung. Perasaan agar sang anak tidak mengalami  kekuranganan atau penderitaan sebagaimanayang telah   dialami orangtuanya pada masa kecil, selalu terbayang-bayang dalam pikiran kita. Sebagai orang tua kita tidak ingin diakatakan sebagai orang tua yang pelit, yang kejam kepada anak.
                Sebagai orang tua tampaknya kita dituntut untuk secara cerdas memilah-milah tentang kebutuhan dan keinginan anak. Tidak semua kemauan anak merupakan kebutuhan yang bermanfaat bagi masa depannya, bisa jadi kemauan anak tersebut merupakan keinginan yang tidak begitu urgen.Sikap bijaksana orang tua dalam memberi penejelasan alasan-alasan penolakan terhadap  kemauan anak tentunya akan membuat anak lebih memahami dan mau mengerti. Dengan pembiasaan yang demikian, diharapkan anak tidak menjadi anak yang suka menuntut dan jika tidak terpenuhi tuntutanya  akan melakuakn berbagai ancaman.
               

2 comments:

  1. Tentang Ujian Nasional yang menyebabkan Welas Tanpa Alis, saya juga menulisnya Pak Agus. Tulisan itu ada pada Kompasiana. Salam kenal, Pak Agus.

    ReplyDelete
  2. Ya,tampaknya kita sepakat untuk mendidik siswa agar menjadi manusia yang mandiri jujur dan berprestasi. Thanks atas komennya salam kenal juga. Tagpi ngomong-ngomong namanya sipa ya ?

    ReplyDelete

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.