Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Thursday, 23 February 2012

STRESS DAN KECAPAIAN PARAH DI KELAS SEORANG GURU


Stress dapat dialami siapa saja 
Sebagai seorang guru pernahkah anda merasakan keletihan secara emosional, kehilangan energi dan antusiasme mengajar, merasa energi habis-habisan dimanfaatkan untuk mengajar tanpa waktu tersisa. Selanjutnya anda juga mudah tersinggung atau sensitivitas meningkat, sinis terhadap lingkungan sekolah, bahkan merasa tidak  sanggup lagi  untuk berpikir jernih. Awas, gejala yang telah disebutkan adalah gejala guru yang mengalami kecapaian parah (burn out) di kelas. Yang lebih tragis kecapaian parah di kelas dapat mengakibatkan seorang guru berada di luar jati dirinya. Guru tersebut seolah-olah sedang mengamati diri , pikiran dan raganya. Seorang guru yang mengalami kecapaian parah di kelas cenderung berperilaku tidak percaya dan tidak menyukai siswanya sendiri. Tentu saja akibatnya guru tersebut sering melakukan tindakan yang tidak dapat diterima oleh siswa. Siswa yang mendapat perilaku tidak pada tempatnya akan menjadi tidak lebih baik bahkan  menunjukkan perilaku sebaliknya yang lebih parah.Singkat kata guru yang mengalami kecapaian parah telah kehilangan idealisme awal, belas kasihan semangat juang dan energi mereka.

Kecapaian parah merupakan gejala stres yang berkepanjangan.Stres adalah  bagian dari kehidupan. Demikian juga dalam kehidupan seorang guru.Menurut hasil penelitian menunjukkan profesi guru sebagai profesi yang paling rentan terhadap stres. Adapun guru yang mengalami kecapaian parah di kelas menacapai 3 atau 4 persen. Sedikit memang. Namun demikian dampak perilaku guru yang mengalami kecapan parah  terhadapa siswa tentu saja tidak kita inginkan. Untuk itu tampaknya kita perlu mengetahu faktor-faktor yang paling berpotensi menimbulkan stres bagi seorang guru. Adapun faktor-faktor tersebut diantaranya :

  • Pengelolaan siswa yang suka mengganggu
  • Pindah kerja yang tidak diharapkan
  • Harapan atau standar yang tidak realistis
  • Memperoleh ancaman
  • Perubahan kurikulum
  • Kurangnya saran-prasaran yang memadai
  • Minggu pertama di sekolah
  • Kelas yang penuh sesak
  • Mendapat hasil penilaian yang rendah
  • Para orang tua yang tidak mau mengerti dan suka marah
  • Reorganisasi sekolah
  • Interupsi di kelas bertubi-tubi
  • Pengujian kompetensi
  • Pelecehan berupa kata-kata dari siswa
  • Vandalisme atau pengrusakkan milik pribadi guru



Setelah mengetahui faktor-faktor yang dapat memicu stres selanjutnya seorang guru perlu mengetahui bagaiamana mengelola stres sehinggu tidak memunculkan kecapaian parah. Untuk itu perlu mengembangkan sikap yang dapat mengatasi ketegangan kehidupan di sekolah. Inilah beberapa saran yang diharapkan mampu meredakan stres dan mencegah kecapaian parah :

  • Hindari kesepian karena mengajar. Lakukan kontak terhadap rekan sejawat di sela-sela mengajar. Dapatkan hal-hal bermanfaat dari teman sejawat atau hanya sekedar bersenda gurau melepas ketegangan setelah mengajar.
  •  Ikut dalam kegiatan kelompok guru sejenis. Hal ini penting untuk saling berbagi maslah terkait materi ajar yang dianggap menjadi masalah dalam pembelajaran.
  • Lakukan sesuatu yang berbeda saat menagajar. Dengan menerapkan model-model pembelajaran yang bervariasi akan menghindarkan dari kebosanan baik pada guru maupun siswa.
  • Pelajari sesuatu yang baru. Ikut seminar atau pelatihan yang berbeda dengan mata ajar yang dimapu.
  • Pelajari hal-hal yang bersifat menghibur, yang dapat digabungkan dalam kegiatan belajar misalnya trik sulap sederhana, humor, kisah inspiratif, dan sebagainya.
  •  Menyadari bahwa guru juga manusia yang mempunyai keterbatasan kemampuan. Guru bukan makhluk sempurna yang mampu berbuat bagai malaikat. Namun demikian selalu berusaha menjadi yang terbaik , terus menerus memperbaiki diri, dan belajar dari kesalahan.
  • Tetapkan prioritas. Kita kadang merasa kewalahan terhadap segala tuntutan yang ada. Sudahnya kita menetapkan mana hal yang mendesak segera dilakukan dan mana yang belum perlu dilakukan. 
  • Berusaha mempertahankan selera humor yang sehat. Dengan memanfaatkan humor yang sehat di kelas dan saat berinteraksi dengan teman sejawat membuat kita lebih rileks. Bukankah tertawa itu sehat. 
  • Meluangkan waktu untuk menyendiri. Kadang kita merasa lebih nyaman tanoa gangguan orang lain. Hal ini penting dilakukan untuk sekedar in terupsi terhadap segala aktivitas kita lakuakan. Bagi yang beragam islam sholat lima waktu adalah saat-saat yang tepat untuk menapatkan kejernihan berpikir dalam kesendirian.
  • Jangan mencoba melakukan segalanya sendiri. Delegasikan sejumlah tugas kepada siswa, teman sejawat atau tata usaha terkait dengan tugas-tugas yang relevan.
  • Rawatlah tubuh anda. Tubuh yang lemah dan kurang nutrisi sangat rentan terhadap stres dan kecapaian yang parah. Untuk itu usahakan kecukupan nutrisi untuk tubuh kita. Olah raga dan bermain juga sangat baik untuk menjaga kebugaran tubuh kita.
  • Pergilah ke sesuatu tempat. Kunjungi lokasi wisata yang mampu memberi kesegaran berpikir.
  • Pantau tahap stres. Menyadari tahapan kondisi stres pada diri kit akan membuat kita lebih waspada terhadapa dampak negatifnya. Di sini kita bertindak proaktif bukan reaktif. Dengan sikap proaktif ini kita dapat menetukan kapan kita harus lebih santai.
  • Mencari keseimbangan hidup. Kita menayadari bahwa perlu menyediakan waktu luang untuk kegiatan sosial, meyalurkan hobi di samping rutinitas bekerja.Hindari membicarakan pekerjaan sekolah saat melakukan aktivitas sosial maupun hobi kita.



Nah, rekan guru sekalian apakah anda mengalami gejala kecapaian parah dalam menghadapi siswa di kelas. Jika ya, sudah saatnya anda melakukan hal-hal yang dapat mengurangi kadar stres anda. Jangan sampai sres yang dialami dapat memunculkan  Kepayahan  parah yang akan berakibat terjadinya perlakuan yang salah kepada siswa. Munculnya  kekerasan fisik maupun verbal  terhadap siswa bisa jadi dipicu oleh guru yang mengalami kepayahan parah yang dialami di kelas. Tampaknya stres memang tidak bisa dihindari karena bidang kerja guru sangat berpotensi menimbulkan stres. Namun jika kemudian karena stres berkepanjangan menimbulkan problem dalam menjalankan tugas tentunya patut kita sayangkan.    

 





( Sumber : Kiat Nyaman MENGAJAR DI DALAM KELAS , Ronald L. Partin, PT. Indeks,Jakarta, 2009 )



No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.