Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Friday, 17 June 2011

JUJUR AJUR

 Ibu akan berusaha menanamkan nilai kejujuran kepada anaknya
Jujur  ajur atau jujur hancur adalah istilah jawa untuk mengungkapkan orang yang bersikap jujur tetapi malah mendapat kemalangan. Istilah jujur ajur mungkin tepat disandang oleh Siami. Siami seorang ibu yang berprofesi sebagai  seoang penjahit terpaksa terusir dari tempat tinggal beserta keluarga. Kejujuran yang diungkapkan Siami tentang “contek berjamaah” di SD tempat putranya belajar berbuah Suami terusirn  dari tempat tinggal, kelurahan Gadel, kecamatan Tandes, Surabaya.

                Bermula dari pengakuan putranya yang diminta untuk memberikan contekan kepada teman-teman pada saat UASBN.Adapun  alasan  Alifah Ahmad Maulana yang sering dipanggil Aam diminta memberi contekan kepada teman-temannya adalah sebagai bentuk balas jasa kepada sang guru dan belas kasih kepada teman-temannya. Untuk menyukseskan program “contek berjamaah” ini bahkan diadakan simulasi teknik menyebarkan contekkan sebelum berlangsungnya UASBN. Tentu saja Aam merasa terintimidasi secara halus atas perintah guru tersebut. Mungkin karena diliputi  rasa  berdosa  Aam menyampaikan kejadian ini kepada orang tuanya.
                Berbekal  laporan putranya dan niat menegakkan kejujuran maka Siami melaporkan kejadian kepada kepala sekolah hingga kepala dinas setempat. Laporan Siami semakin heboh ketika kejadian tersebut dipublikasi di media massa. Dampak dari laporan Siami adalah guru yang meminta Aam memberi contekan kepada teman-temannya dan kepala sekolah setempat mendapat hukuman disiplin dari dinas pendidikan.
                Laporan Siami tentang “contek berjamaah” ini juga membuat kecut hati para wali murid yang sekelas dengan anak Siami. Mereka takut laporan ini berdampak pada ketidaklulusan putra-putri mereka. Selanjutnya para  wali murid yang juga tetangga Siami mendatangi rumah Siami menuntut Siami meminta maaf karena telah membuat anak-anak mereka terancam tidak lulus. Namun dalam perkembangannya mereka tidak hanya menuntut permintaan maaf Siami bahkan menunut Siami untuk meninggalkan tempat tinggal. Akhirnya karena merasa terancam di lingkungan tempat tinggalnya Siami mengungsi di rumah sudara. Tragis memang.
                Apa yang dilakukan oleh para wali murid bisa jadi terasa aneh. Bagaimana sebuah kejujuran justru membuat mereka tega mengusir Siami dari rumah. Namun jika dirunut terkait pelaksanaan Ujian Nasional ,  “ contek berjamaah” merupakan  praktik yang lumrah dilakukan oleh beberapa sekolah. Tidak heran  para wali murid berpikir jika sekolah melakukan “contek berjamaah”  adalah upaya wajar guna membantu para siswanya lulus Ujian, toh sekolah lain juga begitu. Di samping itu apa yang dilakuakan Siami dianggap sebagai perbuatan yang dapat mencoreng nama baik sekolah. Sehingga menjadi aneh ketika Siami mempermasalahkannya.  Ya,  tidak begitu salah apa yang menjadi dasar pemikiran para wali murid. Namun jika  kejujuran menjadi dasar pemikiran mungkin kejadiannya akan lain.
                Di tengah gencarnya tentang pendidikan karakter bangsa  kasus Siami menjadi sebuah  ironi. Institusi pendidikan yang diharapkan bakal melahirkan generasi yang menghargai dan menegakkan kejujuran justru dinodai praktik ketidakjujuran dengan melibatkan peserta didik. Lengkap sudah ketidakajujuran melumuri bangsa ini. Dari para elit politik, lembaga pemerintahan, lembaga hukum dan lembaga pendidikan tampaknya tidak lepas dari praktik ketidakjujuran.
                Keberhasilan dalam pelaksanaan UN bagi sekolah disamping diapandang sebagai prestasi juga merupakan prestis.Tidak heran jika sekolah berlomba dengan berbagai cara untuk meraih kesuksesan dalam pelaskanaan UN. Lulus seratus persen dengan rata-rata nilai tinggi adalah dambaan tiap sekolah. Namun jika cara-cara yang digunakan justru menjerumuskan siswa pada pembentukan karakter negatif sugguh sangat disayangkan.
                Saat ini banyak pihak yang bersimpati pada apa yang telah dilakukan. Ketika kejujuran menjadi barang yang langka maka apa yang dilakukan Siami bak setes embun di padang gersang. Dan tidak heran jika  muncul penggalangan dukungan kepada Siami, yang terdholimi. Selanjutnya dimungkinkan Siami-Siami lain akan bermunculan.
                Muncul kasus Siami menunjukkan pada kita bahwa kejujuran itu masih ada. Dan kita masih dapat berharap bahwa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat dengan kejujuran sebagai panglima. Amin
               
               
               
               

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.