Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Sunday, 6 February 2011

SEKOLAH ADALAH SESAT ?

        Saat membuka halaman demi halaman buku yang berjudul “ BELAJAR GOBLOK DARI BOB SADINO “ , tulisan Dodi Mawardi, penulis menemukan sebuah tulisan yang memuat  pendapat Bob Sadino bahwa sekolah adalah sesat. Bagi beliau sekolah justru mencetak manusia-manusia yang penakut, kurang berani mengambil resiko. Sekolah mencetak para lulusan yang cenderung berpikir formal,terlalu banyak berteori kurang praktek. Sekolah dianggap mengajarkan peserta didik untuk cenderung  mengambil resiko yang paling kecil. Padahal dengan mengambil resiko yang kecil justru akan menjauhkan dari kesuksesan.
                Bagi Bob Hasan sekolah yang sebenarnya adalah sekolah di  jalanan”  sebutan untuk            
lingkungan kehidupan nyata.Menurut beliau  di jalananlah tempat yang  belajar sebenarnya. Tentu saja pendapat ini  didasarkan pengalaman hidupnya yang mampu menjadi pengusaha yang sukses tanpa mengandalkan pendidikan formal.Ya, bagi Bob Sadino Universitas  yang sebenarnya adalah Universitas kehidupan. Sebuah niversitas yang tidak dibatasi oleh tembok-tembok aturan formal dan belenggu berfikir akademis.Tampaknya pemikiran beliau mungkin dipengaruhi oleh pemikiran Ivan Illich seorang praktisi pendidikan yang menulis buku Deschooling Society ( Masyarakat Tanpa Sekolah ). Ivan Illich berpendapat bahwa sekolah adalah candu masyarakat yang membelenggu peserta didik terasing dengan kehidupan sekitarnya.
                Bagi Bob Sadino berpendapat sekolah bukanlah lembaga pendidikan utama bagi pendidikan seorang anak. Tanggung jawab pendidikan utama ada di orang tua, sekolah merupakan tempat pendidikan sekunder bagi  anak. Tentu saja kita setuju dengan pendapat  ini . Sekolah bukanlah satu-satunya lembaga pendidikan yang  dapat menghantarkan kesuksesan seorang anak. Banyak faktor yang mempengaruh jalan hidup seseorang mencapai kesuksesan.
                Ungkapan yang disampaikan Bob Sadino yang menyatakan sekolah adalaha sesat  tentunya cukup membuat telinga kalangan pendidikan memerah. Ungkapan ini cukup provokatif, yang tentunya jika diterima apa adanya cenderung menyesatkan.Namun demikian pernyataan tersebut perlu ditanggapi secara arif, sebagai bentuk kritik terhadap lembaga sekolah guna membenahi pola pendidikan di sekolah.
                Sekolah sebagai lembaga pedidikan dipercaya sebagai jembatan menuju kesuksesan. Dengan bersekolah yang menghabiskan waktu antara tujuh belas atau delapan belas tahun dari SD sampai lulus perguruan, dengan harapan memperoleh penghidupan layak. Anak-anak merasa yakin bahwa begitu lulus dari perguruan tinggi dan memperoleh gelar sarjana, maka pekerjaan, misalnya PNS, pegawai BUMN, dan swasta mudah diperoleh. Posisi sebagai PNS menjadi profesi yang diidolakan oleh para siswa, karena dengan pekerjaan yang ringan, resiko kecil, dan gaji yang cukup memadai tentunya,  belum lagi adanya uang pensiun. Akibat pola pikir semacam ini seolah-olah sekolah hanya untuk mengejar profesi dengan resiko ringan tapi gaji memadai. Para lulusan sekolah cenderung kurang berani mengambil resiko untuk berwira usaha secara mandiri. 
                Tampaknya pola pendidikan di sekolah perlu mendorong agar siswa berani berekslporasi atau  memperluas jelajah mental dengan mencari pengalaman-pengalaman positif di luar tembok sekolah. Disamping itu kemauan untuk belajar dari orang-orang yang mempunyai pengalaman hidup dalam menggapai kesuksesan. Para peserta didik diarahkan untuk tidak terjebak dalam pengetahuan-pengetahuan tekstual dan pola pikir formalitas.Perlu dipupuk keberanian untuk mengembangakan diri dengan mencoba seribu satu kegiatan yang berhubungan dengan kecakapan hidup. Pembelajaran yang bersifat kontekstual yang mendekatkan peserta didik dengan dunia nyata perlu selalau diupayakan.
                Pada dasarnya saya  sepakat bahwa pendapat sekolah adalah sesat tidaklah benar. Namun jika  pola pendidikan sekolah menghasilkan lulusan yang berkarakter  tidak berani mengambil resiko, ingin selalu di posisi nyaman meski dengan penghasilan minim, kurang mandiri, tentunya sulit untuk membantah pernyataan tersebut. Di sinilah peran guru sangat dibutuhkan untuk selalu memotivasi dan mendorong siswa menjadi manusia yang mandiri, pemberani dan pantang menyerah.
                         


2 comments:

  1. Barang kali apa yang disampaikan Bob hasan itu ada betulnya, yang perlu kita lakukan adalah bermanfaatkah bagi anak ilmu yang diberikan kepada anak-anak peserta didik bagi anak itu sendiri maupun guru di dunia dan diakhiratnya ???

    ReplyDelete
  2. Ya,pendapat Pak Bob mengandung nilai kebenaran, tetapi penggunaan kata "sekolah Sesat" tampaknya kurang begitu nyaman di telinga para pendidik. Kritik pak Bob memang perlu ditanggapi dengan kerja keras para pendidik untuk mengantar para peserta didik menjadi manusia yang mandiri dan peduli terhadap lingkungannya. Thanks pak Tri komentnya.

    ReplyDelete

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.