Gadget

This content isn't available over encrypted connections yet.

Saturday, 10 December 2011

NASI BUNGKUS DI HARI ULANG TAHUN ADIN


Indahnya Berbagi
Siang itu Adin duduk di teras rumah menunggu kepulangan papanya. Tadi pagi saat mengantar Adin ke sekolah Papa berjanji mengajak Adin pergi ke restoran untuk memesan tempat dan makanan guna merayakan ulang tahunnya. Ya, seminggu lagi Adin akan merayakan ulang tahun yang ke sepuluh. Ulang tahun kali ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu Adin. Setahun yang lalu Papa berjanji akan merayakan ulang tahunnya  di restoran terkenal. Sebelumnya ulang tahun Adin selalu dirayakan di rumah secara sederhana dengan mengundang teman-temannya.Dengan sedikit rengekan dan berjanji untuk rajin belajar dan tidak nakal , Adin mampu meluluhkan hati Papa untuk mengadakan pesta ulang tahun  di restoran favoritnya.
            Adin cepat-cepat berlari menuju pintu pagar dan segera membukanya sesaat stetlah mendengar deruman suara mobil, meskipun mobil papanya belum terlihat, telinganya sudah hafal benar  suara mobil Papanya meskipun masih berjarak  cukup jauh  dari rumahnya. Dan benar juga  selang beberapa waktu kemudian mobil Papanya segera meluncur masuk ke halaman  rumah.Adin sangat gembira sambil melonjak-lonjak dan bertepuk tangan, ia menyambut kedatangannya Papanya. Dari dalam mobil Papa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, melihat tingkah putrinya.
“Jadi Pa , Jadi Pa !” tanya Adin setengah berteriak dengan menarik-narik tangan Papanya sesaat setelah keluar dari mobil. “Yah, jadi “ jawab  Papa singkat, yang tampaknya paham akan maksud pertanyaan Adin.   “ Horeee... , jadi !”, teriak Adin dengan melonjak setinggi-tingginya.

            Demi mendengar teriakkan Adin yang keras Mama keluar dari dalam rumah. “ Adin, tolong beri kesempatan Papa untuk masuk  dan  istirahat dulu ,“ kata mama memperingatkan Adin yang tampak terlalu bersemangat . “ Oh iya Pa, ayo masuk dulu, Adin sudah sipkan  teh manis dan kue buatan Mama untuk Papa lho,tuh di meja !”kata Adin sambil menggandeng tangan Papanya masuk ke dalam rumah. “ Anak Papa ,paling pinter kalau ada maunya, nih ,“ sahut Papa sambil mencubit pipi Adin yang seperti bakpao, kemerah-merahan.
            Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian Papa segera mengajak Adin menuju restoran yang dijanjikannya dengan mengendarai mobil. Di dalam mobil Adin membayangkan betapa senangnya dapat mengajak teman-temannya untuk ikut merayakan ulang tahun di sebuah retsoran yang terkenal dengan ayam gorengnya yang lezat . Tentu di sekolah ia akan menjadi bahan pembicaraan teman-temannya. Bayangan meriahnya acara ulang tahun sampai dengan enaknya menu makanan yang akan tersaji membuat Adin tidak mempedulikan bagaimana Papanya berjuang melepaskan diri dari kemacetan di jalan yang saat itu tepat waktunya orrang pulang dari kerja. Hentakkan rem yang diinjak secara mendadak membuyarkan lamunan Adin .Hampir saja kepalanya membentur dashboard mobil. “ Sudah sampai Pa ?, “ tanya Adin tergagap . “ Hampir, sabar saja “ jawab Papanya pelan . “ Tampaknya kita tidak bisa parkir di depan restoran lho Din, lihat itu, parkir sudah penuh,.“kata Papa sambil menunjuk tempat parkir di depan restoran.
“ Terus bagaiman dong Pa? “ tanya Adin sedikit kecewa. “ Tidak usah khawatir     ,kita parkir di belakang restoran saja “.  Segera Papa memutar mobil menuju jalan di belakang restoran.
            Setelah sampai di belakang restoran Papa segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan. “ Ayo kita turun ! “ Ajak Papa kepada Adin. “ Sebentar Pa!,”   jawab Adin sambil memegang pergelangan tangan Papa yang akan membuka pintu mobil. “Lho , ada apa !” tanya Papa keheranan. “ Lihat Pa  “, kata Adin lirih sambil tangannya menunjuk pemandangan di depan mobil mereka. Tampak seorang wanita gelandangan  beserta dua anaknya  sedang mengais-ngais sampah di belakang restoran. Anaknya yang berumur kurang dari setahun dalam gendongan ibunya sedang anak yang seumuran Adin tampak asyik membuka-membuka kotak makanan bekas dari tempat sampah. Terlihat mereka sedang memunguti sisa-sisa makanan yang masih layak untuk di makan dari tempat sampah. Anak gelandangan yang seumuran dengan Adin  sesekali melonjak-lonjak kegirangan saat ia mendapatkan potongan ayam goreng masih utuh dari kotak makan dan segera memasukkan ke kantong plastik yang dibawa ibunya. Senyum dan tawa mereka seolah tidak mempedulikan tatapan beberapa orang yang melihat tindakan  mereka dengan perasaan jijik. Sementara itu Adin dan Papa melihatnya dengan persaan haru.
Tanpa terasa buliran cair hangat keluar dari ujung mata Adin  meluncur membahasi pipinya. “ Pa, kita pulang yuk ,“ ajak Adin kepada Papanya dengan suara pelan. “ Terus bagaimana dengan renacana pesan tempat dan makanan ke restoran untuk, ulang tahun kamu? “ tanya  Papa keheranan. “ Tidak usah  Pa, kita pulang saja “, jawab Adin sambil merengkuh tangan Papanya dan menyembunyika wajahnya pada lengannya menahan buliran air matanya agar berhenti mengalir. Dengan masih memendam tanya dalam hati Papa meghidupkan mobil dan meluncur pulang ke rumah.
Sesampai di rumah Adin langsung berlari  menuju  kamar. Sementara itu, Mama yang melihat tingkah Adin hanya terbengong, keheranan. Tatapan mata Mama kepada papa yang penuh tanya  hanya di jawab gerakan mengangkat bahu.
 Papa dan Mama terduduk di sofa. Tanpa kata-kata keluar dari mulut keduanya. Mereka tampaknya sibuk dengan pertanyaan dalam pikiran mereka demi melihat kelakuan putri mereka. Tiba-tiba saja Adin keluar dengan membawa dua celengan kaleng bergambar berbi berwarna merah muda. “ Pa, Mah, ulang tahun Adin tidak usah dirayakan di restoran  “.
“ Lho kenapa “, tanya Papa dan Mama hampir bersamaan .
“Papa lihatkan apa yang terjadi di belakang restoran tadi ? “ tanya Adin. “ Oh yang tadi ? “, sahut Papa. Sementara itu Mama hanya menatap dengan panuh tanya mendengar pembicaraan Adin dan Papanya. Demi melihat kebingungan Mama, Papa segera menceritakan  apa yang mereka lihat pada saat parkir di belakang restoran  kepada Mama.
” Adin ingin di hari ulang tahun Adin nanti berbagi  makanan kepada para gelandangan dan pengemis  dan ini uang tabungan Adin untuk membeli makanan “. Kata Adin sambil menyerahkan celengan kalengnya kepada Papanya.  
“Baiklah kalau itu keinginana kamu, papa jadi terharu, nanti uang yang rencana untuk merayakan ulang tahunmu di restoran kita gunakan juga unutuk membeli makanan yang akan kita bagi- bagikan “, usul Papa. “ Tapi ngomong-ngomong makanan apa yang akan kita bagikan ? “. Tanya Papa. “ Bagaimana nasi bungkus dengan lauk sayur dan ayam goreng, dengan uang yang ada nanti akan lebih banyak  gelandangan  dan pengemis  yang akan memperoleh nasi bungkus “.
            Mama hanya terdiam membisu mendengar percakapan Adin dan Papa. Ia terharu melihat Adin yang biasanya manja dan mau menang sendiri ternyata mempunyai jiwa kepedulian terhadap orang-orang yang dalam kekurangan. Dipeluknya tubuh Adin, sambil mencium kepala putrinya dengan lirih Mama berkata “ Mama bangga kepada kamu nak,”.  Tampak mata Mama berkaca-kaca.
Hari ini nampaknya hari yang yang berharga bagi Adin. Ia melihat masih banyak anak-anak  yang tidak beruntung, hidup dalam kekurangan.Dan sudah sepantasnya ia yang kebetulan mempunyai orang tua dengan rezeki yang lebih dari cukup untuk bisa berbagi dengan mereka.Ya, alangkah indahnya jika kita semua bisa saling berbagi.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar di sini. Apabila komentar membutuhkan suatu jawaban, maka saya akan segera menjawabnya. Terima kasih.